Senin, 04 September 2017

Ku temukan engkau disayap ButerFly



Ku temukan engkau disayap ButterFly
            Saat itu, hari pertamaku menginjakkan kaki di Universitas. Tepatnya di UIN Bandung. Pertama kali aku jauh dari sanak keluarga, sahabat, dan meninggalkan kampung halamanku. Memang benar, terasa keasinganku diantara beribu-ribu mahasiswa yang berpakaian hitam putih ini di masa orientasi pengenalan akademik kemahasiswaan.
            Aku duduk dibarisan paling belakang diantara barisan dan deretan mahasiswa baru. Dibawah teduhan yang tak seberapa mengayomi tubuh mungilku. Sorot pandangan-pandangan terasing yang selalu ku tangkap. Beberapa menanyai nama dan asal kota kelahiranku. Tidak semua, hanya beberapa saja.
Tiba-tiba seorang tentara kampus membangunkan lamunanku.
            “Hai dek, jangan melamun! Perhatikan yang di atas panggung.”
            “Baik kak,” dengan sedikit melontar senyum kepadanya.
            Namun sebaliknya, ia hanya memandangku sinis tanpa tersenyum. ia sangat tegas dan tidak pernah tersenyum sedikitpun. Aku penasaran, Mengapa tentara-tentara kampus begitu kuat berdiri tegak dari pagi hingga datangnya senja. Belum lagi dipandang wajahnya yang tidak pernah ceria. Apa ia terlalu berpegang teguh atas tanggung jawabnya hingga mendapati beban berat ya?.
            Diriku saja yang hanya duduk diam mendengarkan pengenalan kampus ini merasa bosan dan capek. Apalagi para tentara kampus itu. Hingga saat pawai yang seramai itu, semua yang mengatur berjalannya lalu lintas agar tidak mengalami kemacetan ya para tentara kampus ini. beberapa celotehan dari teman-teman kelompokku terhadapnya yang sama sekali tidak mendapatkan respon sedikitpun.
            “Senyum adalah Ibadah!, Senyum adalah Ibadah!, senyum adalah Ibadah!” beberapa lontaran meramaikan dengan istilah ini, seolah menjadi yel-yel khusus bagi kami. Aku hanya tersenyum geli mendengarnya.
***
            Masa orientasi pengenalan akademik kemahasiswaan pun telah usai. Dan hari ini aku mulai mengawali diriku bergelut dibangku perkuliahan. Aku telah memiliki beberapa teman dekat yang aku kenal sejak masa orientasi itu. Yang pasti kami selalu sekelas. Karena kamipun satu jurusan. Tak jauh banyak lagi, teman yang aku kenal di lain jurusan.
            “Sya, nanti setelah usai pelajaran pertama kamu bisa menemaniku?” tanya salah temanku yang bernama Nifa.
            “Iya Nif boleh, memang kemana Nif?” tanyaku.
            “Nanti mau ke perpustakaan, mau cari referensi buat makalah tugas kedepan.”
            “OK, siap!.”
            Tak ayal lagi, perpustakaan adalah tempat yang tak asing lagi bagiku. Bahkan dilingkungan barupun. Hanya saja yang selalu aku cari diperpustakaan adalah novel-novel. Selain itu aku mencari buku pelajaran jika mendapatkan tugas kampus saja.
            Aku mengunjungi perpustakaan bersama Nifa, ia mencari buku yang diperlukannya. Sementara aku menengok bagian rak-rak buku fiksi. Aku menemukan sebuah buku yang berjudul “Jadikanlah Alloh sebagai sayap kehidupanmu”. Mataku selalu terpana ketika melihat buku yang bertemakan sayap ataupun kupu-kupu. Teringatkan aku terhadap seseorang yang pernah bersemayam dihatiku sejak SMP. Ia mewariskan sayap kupu-kupu yang cantik dan indah. Dan kini aku simpan rapi dibuku harianku. Ku tulis singkat nama pemberi sayap kupu-kupu itu. Tak perlu panjang lebar kuceritakan kisahnya di buku harianku. Cukup tersimpan rapi dimemoriku.
            Aku mengambil buku harianku, dan menatap erat sayap kupu-kupu yang indah ini, terasa kerinduan yang menggebu terhadap pewarisnya. Namun, sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ketika aku merindukannya aku hanya bisa menatap dengan lekat sayap kupu-kupu dalam bukuku. Aku tertegun, meneteskan air mata diatas bukuku, dan hanya setetes. Lalu ku usap dengan punggung tanganku. Aku tak sadar hingga meneteskan air mata. Ku tutup lagi buku harianku, ku taruh di rak buku. Dan kuganti membuka novel yang telah aku temukan tadi.
            “Sya, sudah selesai belum? Ayo pulang, kau ini membaca jangan serius-serius seperti itu. Di pojokan lagi hee.”
            “He iya Nif, Astaghfirulloh. Ayo-ayo kita pulang.!”
            Tanpa sadar aku langsung memasukkan novel itu dan meninggalkan buku harianku di rak perpustakaan.
            “Hai kak Denni,,,! Sapa Nifa terhadap pemuda yang berpapasan dengan kami saat ia akan masuk ke perpustakaan.
            “Eh iya Hai,,, dengan melontarkan senyum manisnya.
            “Eh Nif, bukannya itu tentara kampus yang pernah menegurku untuk fokus ke acara orientasi bukan?” tanyaku.
            “Iya, benar sekali. Ternyata kamu masih ingat.!”
            “La gimana tidak ingat, aku aja sebel sama tentara itu. Songong banget sih. Tidak pernah tersenyum lagi.!. tukasku.
            “Eh,, jangan salah faham. Dia itu murah senyum kok. La buktinya aku sapa tadi dia senyum. Dan kelihatan manisnya lo!. Kalau lagi bertugas ya wajar ia tidak tersenyum. Kalau sampai ia senyum-senyum ya tidak mungkin diterima sebagai tentara kampus.!” Jelas Nifa.
***
            Satu minggu kemudian. Denni, si tentara kampus itu berjalan mondar mandir di kampus. Namun, tidak seperti biasanya. Ia seperti mencari seorang temannya yang tak kunjung datang.
            “Eh Denni, cari siapa kau, kok mondar-mandir kebingungan gitu?” tanya temannya yang bernama Iqbal.
            “Aku mencari seseorang yang aku belum hafal betul wajahnya Bal.”
            “Loh,, aneh-aneh saja kau ini. kenapa harus mencari orang yang tidak begitu kau hafal wajahnya. Seberapa penting memang? Bukannya yang penting itu orang yang kau hafal wajahnya? Seperti diriku ini.” ledeknya.
            “Dasar kau ini!. bukan begitu Bal. Aku katakan tidak begitu hafal, karena ada perubahan di parasnya. Ya aku sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu sama dia.”
            “Memang kau yakin, orang yang kau cari ada di kampus ini?” tanya Iqbal.
            “Ya aku yakin, bisa jadi ia mendaftar kuliah di UIN Bandung pada tahun ini.”
            “Hahaha,, memang ada buktinya? Kau ini jangan suka menghayal saja Denn..!.
            “Aku memiliki bukti!”
            Tiba-tiba Nifa datang dan memecah suasana obrolan Denni dan Iqbal.
            “Hai kak Denni, Hai juga kak Iqbal.” Sapanya. memang dia sangat mudah mengenal orang-orang baru, tidak sepertiku.
            “Hai juga, kau ini datang begitu saja, merusak suasana perdebatan kita haa.” Tukas Iqbal.
            “Astaghfirullohh,, maaf, aku tidak sengaja. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Aku akan pergi saja.!”
            “Tidak usah pergi,! Jangan hiraukan Iqbal. Dia hanya bercanda!.” Bela Denni.
            “Hee,, iya kak, terimakasih.” memang kalian ini sedang ribut memeperdebatkan apa to?” barangkali aku bisa membantu!. Tanya Nifa.
            “Tentang buku Butterfly Nif, kau tahu siapa pemilik buku ini?” tanya Denni seraya menyodorkan bukunya.
            “Haha, ada-ada saja buku Butterfly”. Memang benar disampul tertera tulisan Butterfly. Namun, isinya seperti buku harian saja, tidak ada keterangan nama pemilik sedikitpun. Hanya saja ia menemukan sayap kupu-kupu indah yang menempel dibuku itu.”
            “Kau tau ini buku siapa Nif?” tanya Denni.
            “Sebentar! Dimana kau menemukan buku ini kak Denni?” tanya Nifa.
            “Seminggu yang lalu, aku berkunjung diperpustakaan dan menemukan buku ini di rak-rak buku fiksi!”
            “Seminggu yang lalu saat kita berpapasan itu?, kau juga menemukan dirak buku Fiksi?” ia teringat sahabtanya, Syasya.
            “Iya, benar Nif.!”
            Ia langsung berlari, tanpa jawaban. Dan meninggalkan keduanya. Denni dan Iqbal.
***
            Aku masih termenung di pojok Asrama, sambil mengingat dimana buku harianku aku letakkan. Tiba-tiba Nifa datang dengan Nafas terengah-engah.
            “Hai Sya,, apa kau kehilangan buku harianmu, Butterfly?”
            Aku tercengang kaget. Iya benar Nif? Kau tau dimana buku itu? Itu sangat berharga Nif!” sambil menampakkan kesedihan.
            “Ayo ikut aku sekarang juga!”
            “Kemana Nif,?” Tanyaku.
            “Sudah, kau ikut aku saja, rapikan pakaianmu segera!”
            Aku pergi mengikuti Nifa, tak tau ia akan mengajakku pergi kemana. Ia memasuki gerbang kampus dan menuju taman. Disana masih ada dua pemuda yang sedang ngobrol.
            “Assalamu’alaikum kak?, maaf, tadi kau tinggal begitu saja.!” Sapa Nifa terhadap dua pemuda itu.
            “Wa’alaikumsalam, Iya, ndak papa kok Nif, memang kenapa kau tiba-tiba pergi begitu saja? Kirain ada jam kuliah!.” Jawab Denni
            “Iya kak, sebentar lagi mau masuk kuliah!” aku menjemput sahabatku.!”
            “Oh, ini sahabatmu, bukannya aku dulu pernah menegurmu untuk fokus saat orientasi pengenalan akademik itu ya dek?” tanya Denni.
            “Hee,, iya kak, masih ingat juga ya kak!. Jawabku.
            “Untuk memepersingkat waktu ya kak Denni, karena kita mau masuk kelas. Jadi begini, ini sahabatku yang lupa meninggalkan bukunya begitu saja di rak perpustakaan. Nah bukunya itu sama dengan yang ditanyakan kak Denni tadi terahadapku. Nah untuk jelasnya boleh buku itu langsung di cek oleh Syasya? Untuk memastikan apa benar ini buku miliknya atau tidak.”
            “Oh iya dek, boleh. Ini bukunya!” seraya menyodorkan buku itu terhadap diriku.
            “Alhamdulillah,, iya benar kak, ini bukuku. Terimakasih ya kak sudah menemukannya dan mengembalikan padaku.” Kalau begitu kami langsug pamit, sudah waktunya masuk kelas, dan sekali lagi terimakasih!”
            Aku langsung pergi bersama Nifa dengan meninggalkan kedua pemuda itu di Taman.
            “Syaya,, ini aku Diandra, yang mewariskan sayap kupu-kupu itu dibukumu. Aku di kampus sini terkenal dengan nama Denni. Salam dariku. Aku merindukanmu Sya!” Teriakan Denni terhadap Syaya yang menjauh dari pandangnya menuju kelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl? Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasis...