Ku temukan engkau disayap ButterFly
Saat itu, hari
pertamaku menginjakkan kaki di Universitas. Tepatnya di UIN Bandung. Pertama
kali aku jauh dari sanak keluarga, sahabat, dan meninggalkan kampung halamanku.
Memang benar, terasa keasinganku diantara beribu-ribu mahasiswa yang berpakaian
hitam putih ini di masa orientasi pengenalan akademik kemahasiswaan.
Aku duduk
dibarisan paling belakang diantara barisan dan deretan mahasiswa baru. Dibawah
teduhan yang tak seberapa mengayomi tubuh mungilku. Sorot pandangan-pandangan
terasing yang selalu ku tangkap. Beberapa menanyai nama dan asal kota
kelahiranku. Tidak semua, hanya beberapa saja.
Tiba-tiba seorang tentara kampus membangunkan lamunanku.
“Hai dek, jangan
melamun! Perhatikan yang di atas panggung.”
“Baik kak,” dengan
sedikit melontar senyum kepadanya.
Namun sebaliknya,
ia hanya memandangku sinis tanpa tersenyum. ia sangat tegas dan tidak pernah
tersenyum sedikitpun. Aku penasaran, Mengapa tentara-tentara kampus begitu kuat
berdiri tegak dari pagi hingga datangnya senja. Belum lagi dipandang wajahnya
yang tidak pernah ceria. Apa ia terlalu berpegang teguh atas tanggung jawabnya
hingga mendapati beban berat ya?.
Diriku saja yang
hanya duduk diam mendengarkan pengenalan kampus ini merasa bosan dan capek.
Apalagi para tentara kampus itu. Hingga saat pawai yang seramai itu, semua yang
mengatur berjalannya lalu lintas agar tidak mengalami kemacetan ya para tentara
kampus ini. beberapa celotehan dari teman-teman kelompokku terhadapnya yang
sama sekali tidak mendapatkan respon sedikitpun.
“Senyum adalah
Ibadah!, Senyum adalah Ibadah!, senyum adalah Ibadah!” beberapa lontaran
meramaikan dengan istilah ini, seolah menjadi yel-yel khusus bagi kami. Aku
hanya tersenyum geli mendengarnya.
***
Masa orientasi
pengenalan akademik kemahasiswaan pun telah usai. Dan hari ini aku mulai
mengawali diriku bergelut dibangku perkuliahan. Aku telah memiliki beberapa
teman dekat yang aku kenal sejak masa orientasi itu. Yang pasti kami selalu
sekelas. Karena kamipun satu jurusan. Tak jauh banyak lagi, teman yang aku kenal
di lain jurusan.
“Sya, nanti
setelah usai pelajaran pertama kamu bisa menemaniku?” tanya salah temanku yang
bernama Nifa.
“Iya Nif boleh,
memang kemana Nif?” tanyaku.
“Nanti mau ke
perpustakaan, mau cari referensi buat makalah tugas kedepan.”
“OK, siap!.”
Tak ayal lagi,
perpustakaan adalah tempat yang tak asing lagi bagiku. Bahkan dilingkungan
barupun. Hanya saja yang selalu aku cari diperpustakaan adalah novel-novel.
Selain itu aku mencari buku pelajaran jika mendapatkan tugas kampus saja.
Aku mengunjungi
perpustakaan bersama Nifa, ia mencari buku yang diperlukannya. Sementara aku
menengok bagian rak-rak buku fiksi. Aku menemukan sebuah buku yang berjudul
“Jadikanlah Alloh sebagai sayap kehidupanmu”. Mataku selalu terpana ketika
melihat buku yang bertemakan sayap ataupun kupu-kupu. Teringatkan aku terhadap
seseorang yang pernah bersemayam dihatiku sejak SMP. Ia mewariskan sayap
kupu-kupu yang cantik dan indah. Dan kini aku simpan rapi dibuku harianku. Ku
tulis singkat nama pemberi sayap kupu-kupu itu. Tak perlu panjang lebar
kuceritakan kisahnya di buku harianku. Cukup tersimpan rapi dimemoriku.
Aku mengambil buku
harianku, dan menatap erat sayap kupu-kupu yang indah ini, terasa kerinduan
yang menggebu terhadap pewarisnya. Namun, sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa
lagi. Ketika aku merindukannya aku hanya bisa menatap dengan lekat sayap
kupu-kupu dalam bukuku. Aku tertegun, meneteskan air mata diatas bukuku, dan
hanya setetes. Lalu ku usap dengan punggung tanganku. Aku tak sadar hingga
meneteskan air mata. Ku tutup lagi buku harianku, ku taruh di rak buku. Dan
kuganti membuka novel yang telah aku temukan tadi.
“Sya, sudah
selesai belum? Ayo pulang, kau ini membaca jangan serius-serius seperti itu. Di
pojokan lagi hee.”
“He iya Nif,
Astaghfirulloh. Ayo-ayo kita pulang.!”
Tanpa sadar aku
langsung memasukkan novel itu dan meninggalkan buku harianku di rak
perpustakaan.
“Hai kak Denni,,,!
Sapa Nifa terhadap pemuda yang berpapasan dengan kami saat ia akan masuk ke
perpustakaan.
“Eh iya Hai,,,
dengan melontarkan senyum manisnya.
“Eh Nif, bukannya
itu tentara kampus yang pernah menegurku untuk fokus ke acara orientasi bukan?”
tanyaku.
“Iya, benar
sekali. Ternyata kamu masih ingat.!”
“La gimana tidak
ingat, aku aja sebel sama tentara itu. Songong banget sih. Tidak pernah
tersenyum lagi.!. tukasku.
“Eh,, jangan salah
faham. Dia itu murah senyum kok. La buktinya aku sapa tadi dia senyum. Dan
kelihatan manisnya lo!. Kalau lagi bertugas ya wajar ia tidak tersenyum. Kalau
sampai ia senyum-senyum ya tidak mungkin diterima sebagai tentara kampus.!”
Jelas Nifa.
***
Satu minggu
kemudian. Denni, si tentara kampus itu berjalan mondar mandir di kampus. Namun,
tidak seperti biasanya. Ia seperti mencari seorang temannya yang tak kunjung
datang.
“Eh Denni, cari
siapa kau, kok mondar-mandir kebingungan gitu?” tanya temannya yang bernama
Iqbal.
“Aku mencari
seseorang yang aku belum hafal betul wajahnya Bal.”
“Loh,, aneh-aneh
saja kau ini. kenapa harus mencari orang yang tidak begitu kau hafal wajahnya.
Seberapa penting memang? Bukannya yang penting itu orang yang kau hafal
wajahnya? Seperti diriku ini.” ledeknya.
“Dasar kau ini!.
bukan begitu Bal. Aku katakan tidak begitu hafal, karena ada perubahan di
parasnya. Ya aku sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu sama dia.”
“Memang kau yakin,
orang yang kau cari ada di kampus ini?” tanya Iqbal.
“Ya aku yakin,
bisa jadi ia mendaftar kuliah di UIN Bandung pada tahun ini.”
“Hahaha,, memang
ada buktinya? Kau ini jangan suka menghayal saja Denn..!.
“Aku memiliki bukti!”
Tiba-tiba Nifa
datang dan memecah suasana obrolan Denni dan Iqbal.
“Hai kak Denni,
Hai juga kak Iqbal.” Sapanya. memang dia sangat mudah mengenal orang-orang
baru, tidak sepertiku.
“Hai juga, kau ini
datang begitu saja, merusak suasana perdebatan kita haa.” Tukas Iqbal.
“Astaghfirullohh,,
maaf, aku tidak sengaja. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Aku akan pergi
saja.!”
“Tidak usah
pergi,! Jangan hiraukan Iqbal. Dia hanya bercanda!.” Bela Denni.
“Hee,, iya kak,
terimakasih.” memang kalian ini sedang ribut memeperdebatkan apa to?”
barangkali aku bisa membantu!. Tanya Nifa.
“Tentang buku
Butterfly Nif, kau tahu siapa pemilik buku ini?” tanya Denni seraya menyodorkan
bukunya.
“Haha, ada-ada
saja buku Butterfly”. Memang benar disampul tertera tulisan Butterfly. Namun,
isinya seperti buku harian saja, tidak ada keterangan nama pemilik sedikitpun.
Hanya saja ia menemukan sayap kupu-kupu indah yang menempel dibuku itu.”
“Kau tau ini buku
siapa Nif?” tanya Denni.
“Sebentar! Dimana
kau menemukan buku ini kak Denni?” tanya Nifa.
“Seminggu yang
lalu, aku berkunjung diperpustakaan dan menemukan buku ini di rak-rak buku
fiksi!”
“Seminggu yang
lalu saat kita berpapasan itu?, kau juga menemukan dirak buku Fiksi?” ia
teringat sahabtanya, Syasya.
“Iya, benar Nif.!”
Ia langsung
berlari, tanpa jawaban. Dan meninggalkan keduanya. Denni dan Iqbal.
***
Aku masih
termenung di pojok Asrama, sambil mengingat dimana buku harianku aku letakkan.
Tiba-tiba Nifa datang dengan Nafas terengah-engah.
“Hai Sya,, apa kau
kehilangan buku harianmu, Butterfly?”
Aku tercengang
kaget. Iya benar Nif? Kau tau dimana buku itu? Itu sangat berharga Nif!” sambil
menampakkan kesedihan.
“Ayo ikut aku
sekarang juga!”
“Kemana Nif,?”
Tanyaku.
“Sudah, kau ikut
aku saja, rapikan pakaianmu segera!”
Aku pergi
mengikuti Nifa, tak tau ia akan mengajakku pergi kemana. Ia memasuki gerbang
kampus dan menuju taman. Disana masih ada dua pemuda yang sedang ngobrol.
“Assalamu’alaikum
kak?, maaf, tadi kau tinggal begitu saja.!” Sapa Nifa terhadap dua pemuda itu.
“Wa’alaikumsalam,
Iya, ndak papa kok Nif, memang kenapa kau tiba-tiba pergi begitu saja? Kirain
ada jam kuliah!.” Jawab Denni
“Iya kak, sebentar
lagi mau masuk kuliah!” aku menjemput sahabatku.!”
“Oh, ini
sahabatmu, bukannya aku dulu pernah menegurmu untuk fokus saat orientasi
pengenalan akademik itu ya dek?” tanya Denni.
“Hee,, iya kak,
masih ingat juga ya kak!. Jawabku.
“Untuk
memepersingkat waktu ya kak Denni, karena kita mau masuk kelas. Jadi begini,
ini sahabatku yang lupa meninggalkan bukunya begitu saja di rak perpustakaan.
Nah bukunya itu sama dengan yang ditanyakan kak Denni tadi terahadapku. Nah
untuk jelasnya boleh buku itu langsung di cek oleh Syasya? Untuk memastikan apa
benar ini buku miliknya atau tidak.”
“Oh iya dek,
boleh. Ini bukunya!” seraya menyodorkan buku itu terhadap diriku.
“Alhamdulillah,,
iya benar kak, ini bukuku. Terimakasih ya kak sudah menemukannya dan
mengembalikan padaku.” Kalau begitu kami langsug pamit, sudah waktunya masuk
kelas, dan sekali lagi terimakasih!”
Aku langsung pergi
bersama Nifa dengan meninggalkan kedua pemuda itu di Taman.
“Syaya,, ini aku
Diandra, yang mewariskan sayap kupu-kupu itu dibukumu. Aku di kampus sini
terkenal dengan nama Denni. Salam dariku. Aku merindukanmu Sya!” Teriakan Denni
terhadap Syaya yang menjauh dari pandangnya menuju kelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar