Setiap orang berhak menjadi pewaris cinta
namun diriku, tak mau menjadi pewarisnya
cukuplah aku menjadi pemiliknya untuk selamanya
yang jauh dari kata pewaris dan mewarisi cinta
cara pandangmu telah mewariskanku
akan impian indah yang pernah menjadi sebuah angan-anganku
senyum manismupun telah mewariskanku
akan kenangan dalam pena yang tak pernah luntur diatas kertasku
hingga direlung sujudku, kutemukan dirimu
dikedua bola mataku tampak jelas tegaknya dirimu
diujung mimpi dalam tidurku, tergambar jelas sosok bayangmu
namun, di dunia nyata kau semakin samar terbayang olehku
kini semakin jelas, bukan diriku yang menjadi pewaris cintamu
Senin, 04 September 2017
hakikat Sabar
Sabar itu perasaan, bukan perkataan. jadi, rasakan saja betapa sakitnya. Resapi saja betapa sulitnya. Nikmati saja jatuh-bangunnya. hayati saja bagaimana sedihnya. ledakkan saja air matanya. disitu kamu akan bertemu dengan kesabaranmu. bertemu dipersimpangan antara sabar dan tidak. antara menerima atau menyalahkan. disatu titik, kamu akan menyadari betapa kamu jauh lebih kuat karena ini semua. di satu titik, kamu akan bersyukur betapa Alloh sudah berbaik hati telah memberikan kesempatan yang luar biasa kepadamu untuk merasakan nikmat yang diberinya. yaitu kesabaran
Ku temukan engkau disayap ButerFly
Ku temukan engkau disayap ButterFly
Saat itu, hari
pertamaku menginjakkan kaki di Universitas. Tepatnya di UIN Bandung. Pertama
kali aku jauh dari sanak keluarga, sahabat, dan meninggalkan kampung halamanku.
Memang benar, terasa keasinganku diantara beribu-ribu mahasiswa yang berpakaian
hitam putih ini di masa orientasi pengenalan akademik kemahasiswaan.
Aku duduk
dibarisan paling belakang diantara barisan dan deretan mahasiswa baru. Dibawah
teduhan yang tak seberapa mengayomi tubuh mungilku. Sorot pandangan-pandangan
terasing yang selalu ku tangkap. Beberapa menanyai nama dan asal kota
kelahiranku. Tidak semua, hanya beberapa saja.
Tiba-tiba seorang tentara kampus membangunkan lamunanku.
“Hai dek, jangan
melamun! Perhatikan yang di atas panggung.”
“Baik kak,” dengan
sedikit melontar senyum kepadanya.
Namun sebaliknya,
ia hanya memandangku sinis tanpa tersenyum. ia sangat tegas dan tidak pernah
tersenyum sedikitpun. Aku penasaran, Mengapa tentara-tentara kampus begitu kuat
berdiri tegak dari pagi hingga datangnya senja. Belum lagi dipandang wajahnya
yang tidak pernah ceria. Apa ia terlalu berpegang teguh atas tanggung jawabnya
hingga mendapati beban berat ya?.
Diriku saja yang
hanya duduk diam mendengarkan pengenalan kampus ini merasa bosan dan capek.
Apalagi para tentara kampus itu. Hingga saat pawai yang seramai itu, semua yang
mengatur berjalannya lalu lintas agar tidak mengalami kemacetan ya para tentara
kampus ini. beberapa celotehan dari teman-teman kelompokku terhadapnya yang
sama sekali tidak mendapatkan respon sedikitpun.
“Senyum adalah
Ibadah!, Senyum adalah Ibadah!, senyum adalah Ibadah!” beberapa lontaran
meramaikan dengan istilah ini, seolah menjadi yel-yel khusus bagi kami. Aku
hanya tersenyum geli mendengarnya.
***
Masa orientasi
pengenalan akademik kemahasiswaan pun telah usai. Dan hari ini aku mulai
mengawali diriku bergelut dibangku perkuliahan. Aku telah memiliki beberapa
teman dekat yang aku kenal sejak masa orientasi itu. Yang pasti kami selalu
sekelas. Karena kamipun satu jurusan. Tak jauh banyak lagi, teman yang aku kenal
di lain jurusan.
“Sya, nanti
setelah usai pelajaran pertama kamu bisa menemaniku?” tanya salah temanku yang
bernama Nifa.
“Iya Nif boleh,
memang kemana Nif?” tanyaku.
“Nanti mau ke
perpustakaan, mau cari referensi buat makalah tugas kedepan.”
“OK, siap!.”
Tak ayal lagi,
perpustakaan adalah tempat yang tak asing lagi bagiku. Bahkan dilingkungan
barupun. Hanya saja yang selalu aku cari diperpustakaan adalah novel-novel.
Selain itu aku mencari buku pelajaran jika mendapatkan tugas kampus saja.
Aku mengunjungi
perpustakaan bersama Nifa, ia mencari buku yang diperlukannya. Sementara aku
menengok bagian rak-rak buku fiksi. Aku menemukan sebuah buku yang berjudul
“Jadikanlah Alloh sebagai sayap kehidupanmu”. Mataku selalu terpana ketika
melihat buku yang bertemakan sayap ataupun kupu-kupu. Teringatkan aku terhadap
seseorang yang pernah bersemayam dihatiku sejak SMP. Ia mewariskan sayap
kupu-kupu yang cantik dan indah. Dan kini aku simpan rapi dibuku harianku. Ku
tulis singkat nama pemberi sayap kupu-kupu itu. Tak perlu panjang lebar
kuceritakan kisahnya di buku harianku. Cukup tersimpan rapi dimemoriku.
Aku mengambil buku
harianku, dan menatap erat sayap kupu-kupu yang indah ini, terasa kerinduan
yang menggebu terhadap pewarisnya. Namun, sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa
lagi. Ketika aku merindukannya aku hanya bisa menatap dengan lekat sayap
kupu-kupu dalam bukuku. Aku tertegun, meneteskan air mata diatas bukuku, dan
hanya setetes. Lalu ku usap dengan punggung tanganku. Aku tak sadar hingga
meneteskan air mata. Ku tutup lagi buku harianku, ku taruh di rak buku. Dan
kuganti membuka novel yang telah aku temukan tadi.
“Sya, sudah
selesai belum? Ayo pulang, kau ini membaca jangan serius-serius seperti itu. Di
pojokan lagi hee.”
“He iya Nif,
Astaghfirulloh. Ayo-ayo kita pulang.!”
Tanpa sadar aku
langsung memasukkan novel itu dan meninggalkan buku harianku di rak
perpustakaan.
“Hai kak Denni,,,!
Sapa Nifa terhadap pemuda yang berpapasan dengan kami saat ia akan masuk ke
perpustakaan.
“Eh iya Hai,,,
dengan melontarkan senyum manisnya.
“Eh Nif, bukannya
itu tentara kampus yang pernah menegurku untuk fokus ke acara orientasi bukan?”
tanyaku.
“Iya, benar
sekali. Ternyata kamu masih ingat.!”
“La gimana tidak
ingat, aku aja sebel sama tentara itu. Songong banget sih. Tidak pernah
tersenyum lagi.!. tukasku.
“Eh,, jangan salah
faham. Dia itu murah senyum kok. La buktinya aku sapa tadi dia senyum. Dan
kelihatan manisnya lo!. Kalau lagi bertugas ya wajar ia tidak tersenyum. Kalau
sampai ia senyum-senyum ya tidak mungkin diterima sebagai tentara kampus.!”
Jelas Nifa.
***
Satu minggu
kemudian. Denni, si tentara kampus itu berjalan mondar mandir di kampus. Namun,
tidak seperti biasanya. Ia seperti mencari seorang temannya yang tak kunjung
datang.
“Eh Denni, cari
siapa kau, kok mondar-mandir kebingungan gitu?” tanya temannya yang bernama
Iqbal.
“Aku mencari
seseorang yang aku belum hafal betul wajahnya Bal.”
“Loh,, aneh-aneh
saja kau ini. kenapa harus mencari orang yang tidak begitu kau hafal wajahnya.
Seberapa penting memang? Bukannya yang penting itu orang yang kau hafal
wajahnya? Seperti diriku ini.” ledeknya.
“Dasar kau ini!.
bukan begitu Bal. Aku katakan tidak begitu hafal, karena ada perubahan di
parasnya. Ya aku sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu sama dia.”
“Memang kau yakin,
orang yang kau cari ada di kampus ini?” tanya Iqbal.
“Ya aku yakin,
bisa jadi ia mendaftar kuliah di UIN Bandung pada tahun ini.”
“Hahaha,, memang
ada buktinya? Kau ini jangan suka menghayal saja Denn..!.
“Aku memiliki bukti!”
Tiba-tiba Nifa
datang dan memecah suasana obrolan Denni dan Iqbal.
“Hai kak Denni,
Hai juga kak Iqbal.” Sapanya. memang dia sangat mudah mengenal orang-orang
baru, tidak sepertiku.
“Hai juga, kau ini
datang begitu saja, merusak suasana perdebatan kita haa.” Tukas Iqbal.
“Astaghfirullohh,,
maaf, aku tidak sengaja. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Aku akan pergi
saja.!”
“Tidak usah
pergi,! Jangan hiraukan Iqbal. Dia hanya bercanda!.” Bela Denni.
“Hee,, iya kak,
terimakasih.” memang kalian ini sedang ribut memeperdebatkan apa to?”
barangkali aku bisa membantu!. Tanya Nifa.
“Tentang buku
Butterfly Nif, kau tahu siapa pemilik buku ini?” tanya Denni seraya menyodorkan
bukunya.
“Haha, ada-ada
saja buku Butterfly”. Memang benar disampul tertera tulisan Butterfly. Namun,
isinya seperti buku harian saja, tidak ada keterangan nama pemilik sedikitpun.
Hanya saja ia menemukan sayap kupu-kupu indah yang menempel dibuku itu.”
“Kau tau ini buku
siapa Nif?” tanya Denni.
“Sebentar! Dimana
kau menemukan buku ini kak Denni?” tanya Nifa.
“Seminggu yang
lalu, aku berkunjung diperpustakaan dan menemukan buku ini di rak-rak buku
fiksi!”
“Seminggu yang
lalu saat kita berpapasan itu?, kau juga menemukan dirak buku Fiksi?” ia
teringat sahabtanya, Syasya.
“Iya, benar Nif.!”
Ia langsung
berlari, tanpa jawaban. Dan meninggalkan keduanya. Denni dan Iqbal.
***
Aku masih
termenung di pojok Asrama, sambil mengingat dimana buku harianku aku letakkan.
Tiba-tiba Nifa datang dengan Nafas terengah-engah.
“Hai Sya,, apa kau
kehilangan buku harianmu, Butterfly?”
Aku tercengang
kaget. Iya benar Nif? Kau tau dimana buku itu? Itu sangat berharga Nif!” sambil
menampakkan kesedihan.
“Ayo ikut aku
sekarang juga!”
“Kemana Nif,?”
Tanyaku.
“Sudah, kau ikut
aku saja, rapikan pakaianmu segera!”
Aku pergi
mengikuti Nifa, tak tau ia akan mengajakku pergi kemana. Ia memasuki gerbang
kampus dan menuju taman. Disana masih ada dua pemuda yang sedang ngobrol.
“Assalamu’alaikum
kak?, maaf, tadi kau tinggal begitu saja.!” Sapa Nifa terhadap dua pemuda itu.
“Wa’alaikumsalam,
Iya, ndak papa kok Nif, memang kenapa kau tiba-tiba pergi begitu saja? Kirain
ada jam kuliah!.” Jawab Denni
“Iya kak, sebentar
lagi mau masuk kuliah!” aku menjemput sahabatku.!”
“Oh, ini
sahabatmu, bukannya aku dulu pernah menegurmu untuk fokus saat orientasi
pengenalan akademik itu ya dek?” tanya Denni.
“Hee,, iya kak,
masih ingat juga ya kak!. Jawabku.
“Untuk
memepersingkat waktu ya kak Denni, karena kita mau masuk kelas. Jadi begini,
ini sahabatku yang lupa meninggalkan bukunya begitu saja di rak perpustakaan.
Nah bukunya itu sama dengan yang ditanyakan kak Denni tadi terahadapku. Nah
untuk jelasnya boleh buku itu langsung di cek oleh Syasya? Untuk memastikan apa
benar ini buku miliknya atau tidak.”
“Oh iya dek,
boleh. Ini bukunya!” seraya menyodorkan buku itu terhadap diriku.
“Alhamdulillah,,
iya benar kak, ini bukuku. Terimakasih ya kak sudah menemukannya dan
mengembalikan padaku.” Kalau begitu kami langsug pamit, sudah waktunya masuk
kelas, dan sekali lagi terimakasih!”
Aku langsung pergi
bersama Nifa dengan meninggalkan kedua pemuda itu di Taman.
“Syaya,, ini aku
Diandra, yang mewariskan sayap kupu-kupu itu dibukumu. Aku di kampus sini
terkenal dengan nama Denni. Salam dariku. Aku merindukanmu Sya!” Teriakan Denni
terhadap Syaya yang menjauh dari pandangnya menuju kelas.
Minggu, 03 September 2017
sudah, lautan tak cukup luas tuk menampung air mataku
jika dunia ini hanya berisi engkau dan diriku
niscaya kita akan mudah untuk bersatu
namun kenyataan tidaklah demikian
dunia memiliki banyak pilihan
pasrahkanlah semua perkara terhadap Alloh
yakinlah Alloh memiliki yang terbaik buat hambanya
sudah terbentang jutaan takdir di Lauhul Mahfudz
hanya saja, tidak semua mampu menerima takdir dengan hati yang lapang
aku hanya mampu meminta disetiap ujung sujudku
tak mampu ku ucapkan sebuah nama-nama harapanku
karena kini, semua harapan tak patut lagi untuk diperjelas
oh Tuhan, rengkuh aku dalam lautan Keridloan-Mu
niscaya kita akan mudah untuk bersatu
namun kenyataan tidaklah demikian
dunia memiliki banyak pilihan
pasrahkanlah semua perkara terhadap Alloh
yakinlah Alloh memiliki yang terbaik buat hambanya
sudah terbentang jutaan takdir di Lauhul Mahfudz
hanya saja, tidak semua mampu menerima takdir dengan hati yang lapang
aku hanya mampu meminta disetiap ujung sujudku
tak mampu ku ucapkan sebuah nama-nama harapanku
karena kini, semua harapan tak patut lagi untuk diperjelas
oh Tuhan, rengkuh aku dalam lautan Keridloan-Mu
Aniisun
Aniisun yang berarti Peramah
sesuai dengan dirinya yang disebut seperti itu
tak kusangka kau mengingatku dengan istilah lain nan asing
aku tak percaya bahwa kau sebenarnya ada dan nyata
dosakah diriku yang acuh saat itu?
apa yang harus aku lakukan jika suatu saat aku bertemu dengannya
seolah diri tak kuat untuk menerima sebuah kenyataan
diantara beribu kenyataan
terimakasih Tuhan telah mengenalkan aku terhadap dirinya
yang selalu mengingatkan aku terhadap sejuta mimpiku
namun, tak boleh melupakan ibadahku
hanya saja kenyataan akan berpihak lain
entah berpihak atas dirinya atau diriku
yang bermasalahkan antara ruang dan waktu
sesuai dengan dirinya yang disebut seperti itu
tak kusangka kau mengingatku dengan istilah lain nan asing
aku tak percaya bahwa kau sebenarnya ada dan nyata
dosakah diriku yang acuh saat itu?
apa yang harus aku lakukan jika suatu saat aku bertemu dengannya
seolah diri tak kuat untuk menerima sebuah kenyataan
diantara beribu kenyataan
terimakasih Tuhan telah mengenalkan aku terhadap dirinya
yang selalu mengingatkan aku terhadap sejuta mimpiku
namun, tak boleh melupakan ibadahku
hanya saja kenyataan akan berpihak lain
entah berpihak atas dirinya atau diriku
yang bermasalahkan antara ruang dan waktu
Jumat, 01 September 2017
misteri yang tak terpecahkan
Misteri Sumur Gantung
Sumur gantung, begitulah orang-orang
tua di kampungku menyebutnya, tepatnya di daerah Madiun. Jujur aku tak pernah
tau sejarahnya hingga sekarang. Dan akupun ingin mencoba mencari sejarahnya.
Telah banyak peristiwa aneh yang akhir-akhir ini sering aku dengar dari para
tetangga.
***
Saat itu aku baru saja memasuki
pesantren Nurul Huda ketika menginjak bangku Tsanawiyah. Yang mana pesantren
itu tidak cukup jauh dari Sumur gantung tersebut. Memang benar kenyataan itu,
namun tidak banyak santri yang telah lama tinggal di pesantren ini dan
mengetahui sejarah sumur itu.
Tiba-tiba Furqon memecah lamunanku.
“Hei, minta tolong anterin aku dong
ke bidan Lasmiarti!, aku ingin cek kesehatan. Akhir-akhir ini kondisi
kesehatanku menurun.”
“OK, kita naik sepeda Onthel ya.”
Zaman di pondok tidak ada santri
yang membawa motor. Hanya beberapa yang membawa sepeda onthel, itupun tidak
genap dari angka empat. Jadi seberapa jauh jarak yang akan kami tempuh untuk
pergi, hanya dengan menggayuh sepeda onthel.
Sepeda onthel ini memang cukup tua
umurnya, melebihi umurku. Layak saja jika tidak selancar perjalanan menggunakan
sepeda onthel yang masih baru. Aku menggayuh tertatih-tatih membonceng Arif
yang bertubuh lumayan besar dariku, namun dia lemah karena kurang sehat.
“Masih kuat Furqon?” tanya Arif
dengan suara melemah.
“Masih Rif. Sebentar lagi sampai
kok, tenang saja!”
Tepat sampai di rumah bidan
Lasmiyarti, aku turun dan mengantarkan Arif masuk kedalam. Sedangkan aku hanya
bisa menunggu di luar. Pandanganku terpusat pada sebuah bangunan di depan rumah
ini. ada sesuatu yang nampak baru, seperti tempat yang layak untuk dikunjungi.
Ada beberapa pepohonan yang tertata layaknya sebuah taman. Penuh tanya dari
dirku. Tempat apa ini, tapi sepi sekali, tidak ada seorangpun yang terlihat
berada disana.
“Ayo pulang Furqon!” lagi-lagi Arif
memecahkan lamunanku.
“Eh sudah selesai Rif? “Bagaimana
kata bu Bidan?”
“Alhamdulillah lambungku sudah pulih
insyaalloh, hanya saja darah rendah ini yang masih melekat ditubuhku. Makanya
aku sering melemah.” Tapi ndak papa kok. Semua akan baik-baik saja. Bu
Bidan juga sudah menyarankan beberapa makanan yang harus aku konsumsi. Seperti
air kacang hijau, daging dan lain sebagainya. Terimakasih ya Furqon sudah mau
mengantarku kesini.”
“Alhamdulillah, yasudah mari kita
pulang!”
Di perjalanan aku masih terpikir
dengan suatu tempat yang aneh tersebut. Aku baru ingat bahwa Arif termasuk
santri lama dari kecil yang berada di desa ini. sembari perjalanan menuju
pesantren aku banyak tanya terhadap Arif mengenai tempat yang aku bilang aneh.
“Arif, ngomong-ngomong kamu
tahu tidak bangunan apa yang ada di depan rumah bu bidan tadi?”
“Oh, itu. Iya aku tahu. Itu Sumur
gantung fur. Jujur, seumur hidup aku tak pernah berani mendekati sumur itu.
Bukan Cuma aku, anak-anak lain di kampung pun sama. Jangankan mendekati
sumurnya. Mendekati tegalnya pun tak berani. Bukan karena takut hantu seperti
yang sering digunakan orangtua kami untuk menakut-nakuti, melainkan karena mata
mencorong bapak-bapak kami yang jauh lebih mengerikan. Ada banyak cerita
tentang kejadian mistis di sekitar sumur gantung itu.”
“kejadian mistis seperti apa Rif
yang kau maksud!” tanyaku penasaran.
“Konon, seorang bocah pernah mencoba
mengetahui rahasia apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam sumur itu. Dengan
tanpa memiliki rasa takut, ia naik dan nengok sumur itu, apa isinya? Bukan air
yang dilihatnya. Namun cairan darah-darah yang baunya sangat tidak sedap. Bocah
itu lari ketakutan, ia pulang dan lapor orangtuanya. Saking ketakutannya ia
langsung muntah darah dan pingsan. Setelah beberapa jam nyawa bocah tersebut
tidak terselamatkan.”
“Konon pula, seorang ibu mencari
kayu bakar di sekitar sumur gantung. untuk kebutuhan sehari-hari, belum pernah
ia mencari kayu bakar disitu. Baru pertama kali saait itu ia terpaksa harus
mencari disana. Setelah ia membawa pulang beberapa bongkah kayu dan menggunakan
selayaknya, malam harinya ia di usik oleh makhluk-makhluk halus penunggu sumur
gantung. Ia terus di hantui dan hantu-hantu itu membunuh ibu itu dengan sangat
tragis.”
“Waw!. Mengerikan sekali Rif,
tapi mengapa sekarang tempatnya terlihat bagus, seperti tempat wisata.”
“Memang benar Fur, dibuat seperti
itu agar tempat itu tidak terkesan menyeramkan.”
“Tapi, apakah hingga sekarang sumur
itu masih angker?”
“Sepertinya iya.”
“Aku masih penasaran Rif, nanti aku
ingin mengamati kesana bersama ketiga sahabatku.”
“Jangan Fur, bahaya!”
“Tenang saja Rif, aku tidak sendiri.
Insyaalloh Alloh menyelamatkanku.”
“Kalau seperti itu mau kamu,
silahkan. Semoga Alloh menjagamu.”
“Terimaksih Rif.”
Tak terasa kamipun tiba di pesantren
setelah menggayuh sepeda onthel sambil berbincang-bincang bersama Arif. Segera
mungkin aku menemui ketiga sahabatku yang juga penasaran dengan sumur gantung
tersebut. Dan kami langsung pergi menuju sumur gantung dengan maniki sepeda
onthel hingga tiba disana.
“Aku terlalu takut untuk mendekat,
telapak kakiku seolah terpacak ke dalam tanah.”
“Ayo Fur jangan pura-pura takut,”
Sahut Imron.
“Ndak kok!”
“Kamu yang ngajak kok malah kamu
yang takut Fur,” tambah Alan.
Aku berusaha mengumpulkan kekuatan
agar bisa melangkahkan kakiku. Kuyakinkan diriku sendiri bahwa sumur itu
sebenarnya aman. Tidak ada apa-apa di sana. Aku memejamkan mata sambil mulai
melangkah dan terus merapal setiap do’a dan ayat Al-Qur’an yang ku ingat agar
tetap merasa aman. Kesadaranku nyaris hilang ketika sesuatu mencengkeram
lenganku begitu kuat dan menyeret tubuhku mejauhi sumur tua itu. Aku sangat
terkejut. Ketika mataku terbuka, aku membalikkan badan. Bapak sudah berdiri
satu langkah di depan, tak menoleh kepadaku sedetik pun, hanya dengus napas.
Imran, Haris, dan Alan terdiam, aku tak berdaya. Geletar aneh, menjalar di
pori-poriku, terasa dari cekalan di lenganku.
Aku berusaha menenangkan hati sambil
terus memandangi punggung Bapak yang berjalan cepat di depanku.
Setelah menyeretku dari sumur
gantung tadi, Bapak hanya terus berjalan cepat tanpa melirikku. Tak ada
kata-kata. Tapi, sorot mata Bapak yang tajam dan mencorong sudah menjelaskan
semuanya. Bukan karena aku telat sekolah, atapun suka main keluar dari
pesantren, tidak. Bapak lebih paham tentang diriku. Tapi, bagaimana Bapak bisa
tahu Aku dan teman-teman mengunjungi sumur gantung itu? Ah, sudahlah. Itu tidak
penting lagi, hukuman lewat tatapan mata bapak jauh lebih penting sekarang.
Tapi, aku harus ngomong apa?
“Apa yang kamu temukan, Le?”
Hanya itu, hanya sebaris pertanyaan
itu, tapi cukup membuatku terpana, seperti pesilat yang kalah tarung sebelum
bertanding. Bapak terus berjalan dengan cepat tanpa sedikitpun menoleh ke
belakang untuk melihatku. Perkataan Bapak membekas dihatiku, aku tidak ingat
kapan terakhir kalinya Bapak menasihatiku dengan didahului pertanyaan yang
menikam jantung. Aku berpikir sejenak, menimbang apakah perlu menjawab atau
tidak, lalu aku putuskan untuk tidak menjawab sekalimat pun. Dalam pengaruh
emosi yang campur aduk, aku bergeming.
“Apa kamu pikir sumur gantung itu
tempat bermain-main?”
Aku berdiri tegak, membeku,
terperangah mendengar pertanyaan Bapak yang tidak pernah kusangka-sangka. Belum
pernah Bapak semarah ini, marah sambil mengumbar pertanyaan yang sungguh sulit
kujawab. Beginilah rasa takut itu, barangkali, menunggu setiap detik berlalu
tanpa tahu apa yang semestinya kulakukan. Tak kusangka ternyata kepergianku ke
sumur gantung bersama teman-teman akan menyulut amarah Bapak. Aku menduga ada
rahasia besar yang disembunyikan oleh Bapak.
“Sesekali dengarlah nasihat
orangtua, Le!” tegas Bapak. “Kamu tidak boleh begini terus, Bapak
capek!”
Seketika itu juga, aku seperti
cacing kepanasan, gemetaran di depan Bapak.
Kamipun terus berjalan tanpa
mengucapkan sepatah kata.
Aku tak akan pernah lagi mendekati
sumur gantung itu. Bahkan, mendekati tegalannya. Kemarahan Bapak lewat tatapan
matanya sangat membekas di kedalaman hati.
Tak perlu ada penasaran hanya untuk
menerima amarah tersembunyi Bapakku. Cukuplah sekali itu, ya, sekali itu saja.
Langganan:
Postingan (Atom)
Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl? Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasis...
-
Cinta dalam Derita Irama hati tiada lagi dendangkan sebuah makna Yang kerap kali kupalsukan tuk tenangkan lara Amarah lelehkan ...
-
Berkah dari Al-Qur’an Mentari pagi yang begitu bersinar menebarkan senyumnya kapada seluruh penduduk dunia. Tidak begitu panas, hanya...