Penyesalan Seorang Pemfitnah
Tanpa masalah, kita tak kan pernah tahu arti sebuah kehidupan. Tanpa masalah, kita tak kan pernah tahu bagaimana cara mencari jalan keluar. Dengan adanya masalah, membuat diri kita lebih mengenal istilah kedewasaan. Meski begitu, aku tetap bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh-Nya.
“Ayah, Ibu, Aku ingin segera pulang dari pondok pesantren ini, dan aku tak ingin kembali. Cahaya yang dulu terang meski sesekali redup, sekarang sudah benar-benar padam, Ibu. Aku tak tahu lagi bagaimana cara membakar api berkobar yang selalu dibawa oleh semua teman-temanku, bahkan Abah dan Ummi juga.” Ujarku dalam hati. Kuhapus air mata yang sudah terlanjur berurai deras.
Tok, tok, tok.... “Hanifah, buka pintunya. Nif, segera buka pintunya sekarang!” suara berbisik dari dekat pintu kamar mandi. Aku membukanya perlahan, ia bergegas masuk dan menutupnya kembali.
“Nif, aku dengar suara sesunggukanmu dari luar, sudah janganlah menangis seperti ini. Justru jika mereka tau kalau kamu menangis, mereka akan bahagia karena merasa menang. Sudah, sekarang tenangkan dulu, ambil air wudlu, lalu keluar dari sini. Jangan sembunyi, hadapi mereka dengan tenang. Anggap saja tiada suatu yang pantas untuk dipermasalahkan. Bukan begitu?”
Aku mengangguk mendengar nasihat dari Mbak Fida. Aku sadar bahwa memang diri ini sangatlah lemah. Mudah untuk menangis, belum terlalu tegar menghadapi semua permasalahan. Segera ku ambil air wudlu dan keluar kamar mandi bersama Mbak Fida. Memang benar, aku suka mengurung diri dan menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Bagiku inilah tempat paling aman untuk menangis, karena ketika air mataku jatuh deras sekalipun, aku bisa berpura-pura menjatuhkan air sebanyak-banyaknya, agar tak ada yang mendengar tangisku.
Aku berjalan menuju musholla kecil yang terpetak di salah satu bagian pondok pesantren. Tempat yang paling nyaman untuk beribadah, belajar, dan membaca Al-Qur’an. Perlahan aku mulai membuka mushaf Al-Qur’an, tak disangka suara menggelegar mendekatiku.
“Hanifah, kamu memang santri yang tidak pantas untuk belajar disini. Segera keluar dan jangan pernah kembali. Aku sudah bosan melihatmu!” cemooh Abah dengan suara yang sangat lantang, membuat para santri pasti mendengarnya.
Aku hanya terdiam, menunduk, dan menahan tangis yang begitu menusuk tajam. Ketika Abah sudah puas memarahiku, ia berlalu kembali menuju tempatnya, dan aku lari ke kamar untuk meledakkan tangisan yang sedari tadi telah kutahan.
“Sabar, Nif.... Sabar.... aku sudah mendengar semuanya. Ingat! Semua yang dikatakan Abah itu hanya karena terbawa emosi. Sudahlah, beberapa hari kemudian pasti beliau sudah baik-baik saja menyikapimu, seperti hari-hari sebelumnya.” Ujar Mbak Fida dengan memelukku.
“Tapi, Mbak.... beliau mengusirku, apa tidak malu jika aku masih saja bertahan disini.” Ucapku terbata-bata diantara tangis yang membara.
“Justru jika kamu mampu untuk bertahan disini hingga hafalanmu khatam, beliau akan malu. Karena beliau tau ketabahan dan kesabaran dirimu dalam menghadapi segala permasalahan. Toh, guru tahfidz bukan Abah, kan? Tapi Ummi, jadi santai saja. Selesaikan hafalan Al-Qur’anmu, setelah itu boleh kamu izin pulang untuk selamanya.”
“Ummi juga sudah berubah sekarang. Beliau lebih banyak diam dihadapanku, tak seperti dahulu yang sering memberi nasehat dan mengkritik hafalan yang terlalu banyak salah. Kini Beliau hanya mendehemkan suara saja ketika ada bacaan yang salah di waktu setoran. Dunia seketika berubah, tak ada yang percaya lagi sama aku, Mbak.”
“Hanifah, ada aku disini, ada Allah di hatimu, ada Al-Qur’an yang selalu menenangkanmu dikala terpuruk. Janganlah berputus asa, fokuslah dengan tujuanmu untuk mencapai cita-cita. Bukankah kehidupan tak kan menjadi berwarna tanpa suatu masalah? Berterimakasihlah kepada Allah, karena ia sangat menyayangimu. Allah mengajarimu untuk lebih dewasa melalui segala permasalahan dalam kehidupan, sekali lagi, janganlah berputus asa.”
***
Bersambung....