Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl?
Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasiswa di Luar Negeri. Dan tidak jarang diantara kita yang mengeluh dengan hal tersebut bahkan ada yang putus asa sebelum mencoba. Beberapa hari yang lalu aku mendapati pertanyaan dari salah satu anggota grup Scholarship Hunter.
“Kak, aku kurang banget nih di bidang bahasa inggris. Tapi untuk applay beasiswa S2 mewajibkan bisa bahasa inggris dengan tes toefl. Kan itu sulit!”
Aku mengernyitkan dahi, mengingat bahasa inggris ku juga yang terbilang minim dan perlu banyak belajar. Meski begitu, keinginan untuk lancar berbahasa inggris tak mungkin luntur dalam diri ini karena mimpi-mimpi yang begitu tinggi tak pernah menjauh dari bayanganku. Aku menjawab pertanyaan teman dengan begitu santai.
Jangan pernah kita ingin mencapai sesuatu dengan instan, Sahabat. Semua perlu perjuangan untuk mencapainya meski harus dimulai dari nol sekalipun. Untuk mendapat skor toefl bagus sesuai dengan target beasiswa yang kita tuju pun begitu. Kita harus perbanyak belajar dan praktik. Jangan asal dapat sertifikatnya saja tanpa belajar. Nah, langkah awal kita inilah yang perlu diluruskan. Kita tak boleh terlalu berambisi untuk mencapai sesuatu dengan membenci prosesnya. Dalam artian kita harus suka dengan bahasa inggris terlebih dahulu. Kita harus luangkan waktu untuk belajar bahasa inggris. Practice more and more, don’t give up. Suatu saat kita pasti akan merasakan kok betapa perih perjuangan ini dan betapa indah perjuangan ini secara bersamaan. Karena apa? Karena perlu keikhlasan di dalamnya. Keep learning and growing. Kita bersama. Enggak sendiri. Ada Allah untuk kita.
Speechless....
Teringat pengalaman pertamaku waktu belajar toefl kemarin. Bayangin deh, belum punya dasar dalam bahasa inggris dan berani masuk kelas toefl? Ah, ini memang menantang, tapi aku sendiri sudah berazam supaya bisa ikhlas menerima kenyataan, baik berupa materi yang masih asing atau bahkan hampir semua vocab yang belum aku ketahui artinya. Aku enggak malu bila dibilangin bodoh sekalipun. Toh bila malu, secara bersamaan artinya aku mengharap pujian, bukan?
Salah seorang mentor menanyaiku ketika ujian toefl baru saja usai.
“Mbak jurusannya apa?”
“Saya jurusan Bahasa dan Sastra Arab.”
“Lah, rencana mau lanjut kemana emang kalau jurusan bahasa Arab?”
“Yah, kemana saja!” jawabku yakin.
“Biasanya ya, Mbak. Teman-teman yang bisa kuliah ke Luar Negeri itu mereka yang mengambil jurusan bahasa Inggris atau mahasiswa Kelas Khusus Internasional. Karena mereka sudah punya dasar banyak dalam berbahasa Inggris.”
Mendengar ucapan itu pantaskah kita down atau bahkan terpuruk dan bergalau ria selama berhari-hari? No! Justru itu menjadi motivasi untuk diri kita. kalimat itu bukan berniat meremehkan. Akan tetapi menguji diri kita seberapa besar niat ini untuk mewujudkan mimpi.
Sahabat..., mungkin sebagian diantara kita mengalami hal demikian. Punya mimpi kuliah ke Luar Negeri, tetapi sudah mundur duluan karena bahasa inggris. Atau bisa jadi stres karena mikirin skor toefl yang enggak naik-naik. Jangan putus asa dulu, Sahabat. Coba tanya dalam diri sendiri, sudah seberapa jauh perjuangan kita untuk belajar bahasa inggris? Kalau masih secuil, ya jangan berharap hasil yang segunung.
Aku selalu teringat ungkapan salah seorang guru toefl yang tidak hanya berbagi ilmu bahasa inggris saja. Akan tetapi ilmu kehidupan dan deretan motivasi untuk para pemimpi. Beliau selalu mengulang ucapannya, “Orang yang bermimpi adalah mereka yang percaya bahwa mimpi itu akan nyata. Karena kita adalah permata.”
Okay, memang benar bahwa bahasa inggris adalah kunci utama kita untuk menggenggam dunia. Kuliah ke Luar Negeri manapun hampir semua memberi syarat lancar berbahasa inggris. Maka kita perlu memperhatikan hal-hal penting yang perlu kita lakukan meski terlihat remeh. Namun, jangan tinggalkan hal remeh itu karena mungkin ia akan mengantarkan kita untuk realitaskan mimpi-mimpi.
Nana Z.
Kamis, 02 Agustus 2018
Minggu, 22 Juli 2018
Penyesalan seorang pemfitnah
Penyesalan Seorang Pemfitnah
Tanpa masalah, kita tak kan pernah tahu arti sebuah kehidupan. Tanpa masalah, kita tak kan pernah tahu bagaimana cara mencari jalan keluar. Dengan adanya masalah, membuat diri kita lebih mengenal istilah kedewasaan. Meski begitu, aku tetap bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh-Nya.
“Ayah, Ibu, Aku ingin segera pulang dari pondok pesantren ini, dan aku tak ingin kembali. Cahaya yang dulu terang meski sesekali redup, sekarang sudah benar-benar padam, Ibu. Aku tak tahu lagi bagaimana cara membakar api berkobar yang selalu dibawa oleh semua teman-temanku, bahkan Abah dan Ummi juga.” Ujarku dalam hati. Kuhapus air mata yang sudah terlanjur berurai deras.
Tok, tok, tok.... “Hanifah, buka pintunya. Nif, segera buka pintunya sekarang!” suara berbisik dari dekat pintu kamar mandi. Aku membukanya perlahan, ia bergegas masuk dan menutupnya kembali.
“Nif, aku dengar suara sesunggukanmu dari luar, sudah janganlah menangis seperti ini. Justru jika mereka tau kalau kamu menangis, mereka akan bahagia karena merasa menang. Sudah, sekarang tenangkan dulu, ambil air wudlu, lalu keluar dari sini. Jangan sembunyi, hadapi mereka dengan tenang. Anggap saja tiada suatu yang pantas untuk dipermasalahkan. Bukan begitu?”
Aku mengangguk mendengar nasihat dari Mbak Fida. Aku sadar bahwa memang diri ini sangatlah lemah. Mudah untuk menangis, belum terlalu tegar menghadapi semua permasalahan. Segera ku ambil air wudlu dan keluar kamar mandi bersama Mbak Fida. Memang benar, aku suka mengurung diri dan menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Bagiku inilah tempat paling aman untuk menangis, karena ketika air mataku jatuh deras sekalipun, aku bisa berpura-pura menjatuhkan air sebanyak-banyaknya, agar tak ada yang mendengar tangisku.
Aku berjalan menuju musholla kecil yang terpetak di salah satu bagian pondok pesantren. Tempat yang paling nyaman untuk beribadah, belajar, dan membaca Al-Qur’an. Perlahan aku mulai membuka mushaf Al-Qur’an, tak disangka suara menggelegar mendekatiku.
“Hanifah, kamu memang santri yang tidak pantas untuk belajar disini. Segera keluar dan jangan pernah kembali. Aku sudah bosan melihatmu!” cemooh Abah dengan suara yang sangat lantang, membuat para santri pasti mendengarnya.
Aku hanya terdiam, menunduk, dan menahan tangis yang begitu menusuk tajam. Ketika Abah sudah puas memarahiku, ia berlalu kembali menuju tempatnya, dan aku lari ke kamar untuk meledakkan tangisan yang sedari tadi telah kutahan.
“Sabar, Nif.... Sabar.... aku sudah mendengar semuanya. Ingat! Semua yang dikatakan Abah itu hanya karena terbawa emosi. Sudahlah, beberapa hari kemudian pasti beliau sudah baik-baik saja menyikapimu, seperti hari-hari sebelumnya.” Ujar Mbak Fida dengan memelukku.
“Tapi, Mbak.... beliau mengusirku, apa tidak malu jika aku masih saja bertahan disini.” Ucapku terbata-bata diantara tangis yang membara.
“Justru jika kamu mampu untuk bertahan disini hingga hafalanmu khatam, beliau akan malu. Karena beliau tau ketabahan dan kesabaran dirimu dalam menghadapi segala permasalahan. Toh, guru tahfidz bukan Abah, kan? Tapi Ummi, jadi santai saja. Selesaikan hafalan Al-Qur’anmu, setelah itu boleh kamu izin pulang untuk selamanya.”
“Ummi juga sudah berubah sekarang. Beliau lebih banyak diam dihadapanku, tak seperti dahulu yang sering memberi nasehat dan mengkritik hafalan yang terlalu banyak salah. Kini Beliau hanya mendehemkan suara saja ketika ada bacaan yang salah di waktu setoran. Dunia seketika berubah, tak ada yang percaya lagi sama aku, Mbak.”
“Hanifah, ada aku disini, ada Allah di hatimu, ada Al-Qur’an yang selalu menenangkanmu dikala terpuruk. Janganlah berputus asa, fokuslah dengan tujuanmu untuk mencapai cita-cita. Bukankah kehidupan tak kan menjadi berwarna tanpa suatu masalah? Berterimakasihlah kepada Allah, karena ia sangat menyayangimu. Allah mengajarimu untuk lebih dewasa melalui segala permasalahan dalam kehidupan, sekali lagi, janganlah berputus asa.”
***
Bersambung....
Tanpa masalah, kita tak kan pernah tahu arti sebuah kehidupan. Tanpa masalah, kita tak kan pernah tahu bagaimana cara mencari jalan keluar. Dengan adanya masalah, membuat diri kita lebih mengenal istilah kedewasaan. Meski begitu, aku tetap bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh-Nya.
“Ayah, Ibu, Aku ingin segera pulang dari pondok pesantren ini, dan aku tak ingin kembali. Cahaya yang dulu terang meski sesekali redup, sekarang sudah benar-benar padam, Ibu. Aku tak tahu lagi bagaimana cara membakar api berkobar yang selalu dibawa oleh semua teman-temanku, bahkan Abah dan Ummi juga.” Ujarku dalam hati. Kuhapus air mata yang sudah terlanjur berurai deras.
Tok, tok, tok.... “Hanifah, buka pintunya. Nif, segera buka pintunya sekarang!” suara berbisik dari dekat pintu kamar mandi. Aku membukanya perlahan, ia bergegas masuk dan menutupnya kembali.
“Nif, aku dengar suara sesunggukanmu dari luar, sudah janganlah menangis seperti ini. Justru jika mereka tau kalau kamu menangis, mereka akan bahagia karena merasa menang. Sudah, sekarang tenangkan dulu, ambil air wudlu, lalu keluar dari sini. Jangan sembunyi, hadapi mereka dengan tenang. Anggap saja tiada suatu yang pantas untuk dipermasalahkan. Bukan begitu?”
Aku mengangguk mendengar nasihat dari Mbak Fida. Aku sadar bahwa memang diri ini sangatlah lemah. Mudah untuk menangis, belum terlalu tegar menghadapi semua permasalahan. Segera ku ambil air wudlu dan keluar kamar mandi bersama Mbak Fida. Memang benar, aku suka mengurung diri dan menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Bagiku inilah tempat paling aman untuk menangis, karena ketika air mataku jatuh deras sekalipun, aku bisa berpura-pura menjatuhkan air sebanyak-banyaknya, agar tak ada yang mendengar tangisku.
Aku berjalan menuju musholla kecil yang terpetak di salah satu bagian pondok pesantren. Tempat yang paling nyaman untuk beribadah, belajar, dan membaca Al-Qur’an. Perlahan aku mulai membuka mushaf Al-Qur’an, tak disangka suara menggelegar mendekatiku.
“Hanifah, kamu memang santri yang tidak pantas untuk belajar disini. Segera keluar dan jangan pernah kembali. Aku sudah bosan melihatmu!” cemooh Abah dengan suara yang sangat lantang, membuat para santri pasti mendengarnya.
Aku hanya terdiam, menunduk, dan menahan tangis yang begitu menusuk tajam. Ketika Abah sudah puas memarahiku, ia berlalu kembali menuju tempatnya, dan aku lari ke kamar untuk meledakkan tangisan yang sedari tadi telah kutahan.
“Sabar, Nif.... Sabar.... aku sudah mendengar semuanya. Ingat! Semua yang dikatakan Abah itu hanya karena terbawa emosi. Sudahlah, beberapa hari kemudian pasti beliau sudah baik-baik saja menyikapimu, seperti hari-hari sebelumnya.” Ujar Mbak Fida dengan memelukku.
“Tapi, Mbak.... beliau mengusirku, apa tidak malu jika aku masih saja bertahan disini.” Ucapku terbata-bata diantara tangis yang membara.
“Justru jika kamu mampu untuk bertahan disini hingga hafalanmu khatam, beliau akan malu. Karena beliau tau ketabahan dan kesabaran dirimu dalam menghadapi segala permasalahan. Toh, guru tahfidz bukan Abah, kan? Tapi Ummi, jadi santai saja. Selesaikan hafalan Al-Qur’anmu, setelah itu boleh kamu izin pulang untuk selamanya.”
“Ummi juga sudah berubah sekarang. Beliau lebih banyak diam dihadapanku, tak seperti dahulu yang sering memberi nasehat dan mengkritik hafalan yang terlalu banyak salah. Kini Beliau hanya mendehemkan suara saja ketika ada bacaan yang salah di waktu setoran. Dunia seketika berubah, tak ada yang percaya lagi sama aku, Mbak.”
“Hanifah, ada aku disini, ada Allah di hatimu, ada Al-Qur’an yang selalu menenangkanmu dikala terpuruk. Janganlah berputus asa, fokuslah dengan tujuanmu untuk mencapai cita-cita. Bukankah kehidupan tak kan menjadi berwarna tanpa suatu masalah? Berterimakasihlah kepada Allah, karena ia sangat menyayangimu. Allah mengajarimu untuk lebih dewasa melalui segala permasalahan dalam kehidupan, sekali lagi, janganlah berputus asa.”
***
Bersambung....
Minggu, 28 Januari 2018
Ketika Dokter Tak Mampu Menyembuhkanku
"Ketika Dokter Tak Lagi Menyembuhkanku"
Bermula ketika kelas 2 SD, dari sinilah aku mulai diberi penyakit yang entah apa namanya. Bahkan dokterpun tak mengerti sebutannya. Yang jelas, itu penyakit luar, berada di leher, dan melarangku makan dan minum berbagai jenis. Terlebih makanan dan minuman yg disukai anak kecil, dimasaku.
.
Bertahun-tahun aku menderita itu, sesekali tubuhku melemah. Sesekali bertambah parah. Berobat dimana-mana pun sarannya hanya satu, yakni 'Operasi'. Betapa tidak? Orang tuaku jelas tak tega melihatku menjalani operasi dimasa kecilku.
.
Menginjak kelas 5 SD. Orang tuaku memutuskan agar aku dioperasi. Aku menangis dipangkuan Ibu. Aku merasa bahwa inilah kehidupan terakhirku. Sering ku dengar bahwa jarang terselamatkan nyawa seseorang yang telah menjalani operasi. Hari terakhir sebelum diriku dioperasi, banyak jiwa-jiwa yang menghantiku. Setiap aku melewati lorong rumah sakit, sering kutemukan mayat tergeletak diatas ranjang yang didorong oleh para dokter. Hatiku menangis. Aku belum siap menerima kenyataan. Setiap kali aku melihat nyawa di dorong diatas ranjang, aku menjerit dan merangkul ayah. Ayahku menutupi kedua mataku. Dan air mataku mengalir deras di lengannya.
.
Saatnya operasi telah tiba, saat aku duduk dikursi roda dan didorong suster untuk memasuki kamar operasi, aku memegang erat tangan Ibu, aku tak mau terpisahkan. Aku menangis, menjerit, seketika itu pula aku langsung tak sadarkan diri.
.
Operasi telah usai, dan aku bersyukur ketika aku sadar bahwa mataku masih mampu menyapa dunia yang fana ini. Namun, ketika aku mau pulang, sang dokter berpesan kepada Ibu, dan aku mendengarnya.
.
"Bu, jangan kaget jika penyakit anak Ibu datang lagi, Sebab operasi tak bisa dilakukan hanya sekali, harus berkali-kali. Minimal 3-5 kali. Karena masih banyak akar yang tak bisa dibersihkan sekali saja."
.
Ibuku terkejut mendengar kabar yang sama sekali tak membahagiakan itu. Tapi ia tetap sabar merawatku.
.
Beberapa minggu kemudian, Aku mulai merasa kesakitan di tenggorokanku. Setelah diperikasa, ternyata ada 'Amandel' yang hinggap ditenggorokanku. Jelas ini berbeda dengan penyakit sebelumnya. Aku masih menjauhi makanan dan minuman yang dilarang dokter. Ketika aku benar-benar tak mampu menelan ludahpun, akhirnya aku dibawa ke Rumah sakit. Lagi-lagi dokter menyarankan ku untuk operasi. Bagaimana tega? Di umurku yang masih duduk di kelas 5 SD harus operasi berkali-kali. Ibu dan Ayahku menolak. Mereka memutuskan agar aku dirawat aja di Rumah sakit, tanpa operasi.
.
Kurang lebih satu minggu diriku terbaring lemah di Rumah sakit. Berkali-kali darahku diambil, dan berkali-kali pula darah tersendat dipertengahan suntik disebabkan darahku yang sedikit mengalirnya. Tubuhku semakin kecil, terlihat kulit yang melekat pada tulang. Beberapa kali darah terbuang akibat aliran pengambilan yang tidak sempurna. Aku mengaduh, tapi dokter tak peduli.
.
Dua tahun kemudian, aku sudah terbiasa mengalami kambuh tidaknya penyakit 'Amandel'. Dan bekas operasipun tumbuh kembali. Ketika aku di Pesantren, Bu Nyai menasihati diriku.
.
"Nduk,,, Jangan lupa, di setiap usai bacaan alquran mu, tiupkan ketelapak tanganmu, lalu usaplah dilehermu. Semoga penyakit itu dihilangkan oleh Alloh, tanpa operasi lagi."
.
Aku jalani petuah Bu Nyai, bertahun-tahun rutin dengan keadaan seperti itu. Bahkan ketika Romadlon, dimana semua santri berbondong-bondong mencari es batu, mencari minuman yang segar untuk berbuka puasa, sedangkan aku hanya siap dengan segelas air putih. Bahkan temanku selalu iba ketika melihatku. Beberapa kali mereka membujukku untuk mencoba minum bersamanya. Es yang menyegarkan ditenggorokan mereka, terlebih saat berbuka puasa bersama. Namun, aku tak bisa menerima nya.
.
Menginjak SMA, kejaiban itu datang. Penyakit luar yang mewajibkan operasi berkali-kali itu sudah tak tampak lagi. Ketika aku pulang, ibuku kaget melihat tenggorokan ku.
.
"Loh,, tenggorokan mu sudah bersih? Sejak kapan?"
.
Bahkan akupun tak sadar sejak kapan
Bermula ketika kelas 2 SD, dari sinilah aku mulai diberi penyakit yang entah apa namanya. Bahkan dokterpun tak mengerti sebutannya. Yang jelas, itu penyakit luar, berada di leher, dan melarangku makan dan minum berbagai jenis. Terlebih makanan dan minuman yg disukai anak kecil, dimasaku.
.
Bertahun-tahun aku menderita itu, sesekali tubuhku melemah. Sesekali bertambah parah. Berobat dimana-mana pun sarannya hanya satu, yakni 'Operasi'. Betapa tidak? Orang tuaku jelas tak tega melihatku menjalani operasi dimasa kecilku.
.
Menginjak kelas 5 SD. Orang tuaku memutuskan agar aku dioperasi. Aku menangis dipangkuan Ibu. Aku merasa bahwa inilah kehidupan terakhirku. Sering ku dengar bahwa jarang terselamatkan nyawa seseorang yang telah menjalani operasi. Hari terakhir sebelum diriku dioperasi, banyak jiwa-jiwa yang menghantiku. Setiap aku melewati lorong rumah sakit, sering kutemukan mayat tergeletak diatas ranjang yang didorong oleh para dokter. Hatiku menangis. Aku belum siap menerima kenyataan. Setiap kali aku melihat nyawa di dorong diatas ranjang, aku menjerit dan merangkul ayah. Ayahku menutupi kedua mataku. Dan air mataku mengalir deras di lengannya.
.
Saatnya operasi telah tiba, saat aku duduk dikursi roda dan didorong suster untuk memasuki kamar operasi, aku memegang erat tangan Ibu, aku tak mau terpisahkan. Aku menangis, menjerit, seketika itu pula aku langsung tak sadarkan diri.
.
Operasi telah usai, dan aku bersyukur ketika aku sadar bahwa mataku masih mampu menyapa dunia yang fana ini. Namun, ketika aku mau pulang, sang dokter berpesan kepada Ibu, dan aku mendengarnya.
.
"Bu, jangan kaget jika penyakit anak Ibu datang lagi, Sebab operasi tak bisa dilakukan hanya sekali, harus berkali-kali. Minimal 3-5 kali. Karena masih banyak akar yang tak bisa dibersihkan sekali saja."
.
Ibuku terkejut mendengar kabar yang sama sekali tak membahagiakan itu. Tapi ia tetap sabar merawatku.
.
Beberapa minggu kemudian, Aku mulai merasa kesakitan di tenggorokanku. Setelah diperikasa, ternyata ada 'Amandel' yang hinggap ditenggorokanku. Jelas ini berbeda dengan penyakit sebelumnya. Aku masih menjauhi makanan dan minuman yang dilarang dokter. Ketika aku benar-benar tak mampu menelan ludahpun, akhirnya aku dibawa ke Rumah sakit. Lagi-lagi dokter menyarankan ku untuk operasi. Bagaimana tega? Di umurku yang masih duduk di kelas 5 SD harus operasi berkali-kali. Ibu dan Ayahku menolak. Mereka memutuskan agar aku dirawat aja di Rumah sakit, tanpa operasi.
.
Kurang lebih satu minggu diriku terbaring lemah di Rumah sakit. Berkali-kali darahku diambil, dan berkali-kali pula darah tersendat dipertengahan suntik disebabkan darahku yang sedikit mengalirnya. Tubuhku semakin kecil, terlihat kulit yang melekat pada tulang. Beberapa kali darah terbuang akibat aliran pengambilan yang tidak sempurna. Aku mengaduh, tapi dokter tak peduli.
.
Dua tahun kemudian, aku sudah terbiasa mengalami kambuh tidaknya penyakit 'Amandel'. Dan bekas operasipun tumbuh kembali. Ketika aku di Pesantren, Bu Nyai menasihati diriku.
.
"Nduk,,, Jangan lupa, di setiap usai bacaan alquran mu, tiupkan ketelapak tanganmu, lalu usaplah dilehermu. Semoga penyakit itu dihilangkan oleh Alloh, tanpa operasi lagi."
.
Aku jalani petuah Bu Nyai, bertahun-tahun rutin dengan keadaan seperti itu. Bahkan ketika Romadlon, dimana semua santri berbondong-bondong mencari es batu, mencari minuman yang segar untuk berbuka puasa, sedangkan aku hanya siap dengan segelas air putih. Bahkan temanku selalu iba ketika melihatku. Beberapa kali mereka membujukku untuk mencoba minum bersamanya. Es yang menyegarkan ditenggorokan mereka, terlebih saat berbuka puasa bersama. Namun, aku tak bisa menerima nya.
.
Menginjak SMA, kejaiban itu datang. Penyakit luar yang mewajibkan operasi berkali-kali itu sudah tak tampak lagi. Ketika aku pulang, ibuku kaget melihat tenggorokan ku.
.
"Loh,, tenggorokan mu sudah bersih? Sejak kapan?"
.
Bahkan akupun tak sadar sejak kapan
Senin, 25 Desember 2017
Berkah dari Al-Qur'an
Berkah dari Al-Qur’an
Mentari pagi yang begitu bersinar menebarkan senyumnya kapada
seluruh penduduk dunia. Tidak begitu panas, hanya saja sedikit menembus
kain-kain hijau yang menjadi hiasan sederet kafilah MTQ Umum saat
pelaksanaan upacara sebelum pemberangkatan. Nampaklah wajah bersinar dengan
mata sayu, tiada gurat senyum darinya. Sesekali ia menghembuskan nafasnya dalam
rangkaian harapan-harapannya.
Rupanya, Zaky (17) begitu khusyu’ dalam dekapan do’a-do’a. Bahkan,
ia pun tak mengetahui kapan berakhirnya upacara pemberangkatan tersebut.
Lisannya tak pernah berhenti berdzikir. Matanya tak pernah terpejam hanya untuk
menghapus lelah. Sesekali ia rebahkan bahunya di deretan kursi-kursi yang
didudukinya.
Sudah dua tahun ini, Zaky menghafal Al-Qur’an. Sebagai santri
pondok pesantren As-Surkati yang mewajibkan seluruh santrinya untuk menghafal
Al-Qur’an dan juga menjadikan bahasa Arab dan inggris sebagai bahasa
kesehariannya. Al-Qur’an yang dihafalnya nyaris khatam. Oleh sebab itulah ia
berani mengambil keputusan untuk memilih cabang lomba Tafsir Bahasa Inggris dan
Tahfidz 15 Juz di tingkat Provinsi.
Ini merupakan kesempatan pertama bagi kota Salatiga untuk mengirim
kafilah cabang Tafsir Bahasa Inggris dan Tahfidz 15 juz. Begitupula dengan Zaky
sebagai peserta pertama dari kota Salatiga yang tentunya belum berpengalaman
dibidang tersebut. Namun, keyakinannya begitu kuat. Usahanya tak bisa
dihianati. Ia pun berhasil membawa nama harum kota Salatiga.
Tafsir bahasa Inggris merupakan tantangan bagi para penghafal
Al-Qur’an se usianya? Mengapa? Sebab lawannyapun sudah berumur lebih dari 20
tahun. Sedangkan ia sendiri masih berumur 17 tahun. Sesekali ia gabung dengan
para kafilah MTQ cabang Tafsir Bahasa Arab untuk belajar tafsir bersama .
Hingga Gus Ud pun mengatakan, “Aku dulu se-usiamu tidak sepintar kamu Le.”
Hari yang telah lama dinanti-nanti akan segera tiba. Semua peserta
MTQ Umum tentu hatinya berdegup kencang. Terutama para finalis. Begitupula
Zaky. Tak terbayang ketika nama Ahmad Zaky tertutur jelas oleh dewan hakim
dengan menyebutkan juaranya. Ialah nama yang dipanggil pertama. Ini adalah
sebuah petanda bahwa Zaky peraih juara pertama.
Kabar bahagia yang begitu memikat. Ini adalah sebuah kebanggan bagi
kota Salatiga yang mana salah satu kafilahnya berhasil menjadi juara pertama
dan akan siap diikutkan ke ajang Nasional di Medan pada tahun 2018.
Kota Salatiga yang tidak begitu luas, sedangkan penduduknya dari
berbagai macam Agama, pernah mendapat cibiran dari anggota Lembaga Pengembangan
Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jateng. Bahwasanya Salatiga tidak ada harapan untuk menjadi
terbaik diajang perlombaan ini. Namun, kali ini cibiran itu berubah menjadi
acungan jempol. 9 peserta dengan berbagai macam cabang perlombaan yang berhasil
menjadikan Salatiga menempati 10 besar prestasi terbaik se-Jateng. Begitupun
tahun depan Provinsi Jawa Tengah akan memilih kota Salatiga sebagai delegasi
cabang lomba Tafsir Bahasa Inggris dan Tahfidz 15 juz di Medan.
Zaky tidak menyiakan kesempatan yang
sekaligus amanah besar ini. dengan jalan inilah yang akan terus mendorong Zaky
untuk terus belajar menjadi mufassir bahasa inggris terbaik. Harapannya “Selain
mufassir dan mufassiroh yang telah banyak menafsirkan Al-Qur’an dengan bahasa
Indonesia atau bahasa Arab, kini saya ingin menjadi mufassir bahasa Inggris.
Tentunya tidak luput dengan membaca kitab tafsir berbahasa Indonesia ataupun
bahasa Arab yang telah tersebar di seluruh penjuru umat islam. Harapan saya, Muslim
di Benua Amerika dan sekitarya mampu menelaah tafsir Al-Qur’an dengan mudah
sesuai bahasa kesehariannya.” Ujarnya.
Salatiga,
24 Desember 2017
Senin, 04 Desember 2017
Memoar in Pare
Memoar in Pare
Saat itu aku dan kedua temanku bersepeda dimalam hari. Mencari ATM. Selain ambil uang juga buat transfer beli buku wkwkwk.. Nah tau sendiri kalau di Pare jauh dari ATM. Dan curi2 waktu untuk ke Atm tuh emm bgt dah.. Akhirnya malam dah kami ke ATM, kok boleh ya? Haa saat itu udah selesai Imtihan sih, jadi udah free hafalan. Nah terus waktu kedua temenku ke ATm BNI aku masih lanjut menggayuh sepedaku dan berpesan :
.
"Jgn kemana2 ya, tunggu aku di sini aja, mau ke depan sebentar di BRI. "
.
Bukan keberuntungan, BRI sedang perbaikan. ðŸ˜.
.
Nah trus aku kembali ke tempat kedua temenku tadi. Dan ternyata mereka gk ada. Aku gk mau pergi dulu sembari menghubungi mereka. Aku duduk diteras depan BNI, lalu ada seorang laki2 mendekatiku. Uhh seluruh tubuhku gemeteran tuh. Penampilan nya seperti preman. Aku bergeser dan ia malah bergeser. Aku bangkit menuju pinggiran jalan. Belum juga bertemu kedua temenku.
.
Aku membuka Whatsapp dan ternyata di grup rame pada nyariin aku. Salah satu dari kedua temenku lapor di grup bahwa diriku hilang 'katanya'.
.
Ketiga temenku laki2 langsung cuus pergi dengan sepeda ontel nya masing2 untuk mencari aku.
.
Behh jadi rame tuh pada saling mencari wkwkw... Dan aku masih sante aja di pinggir jalan.
.
Nah tak lama kemudian aku lebih dulu bertemu kedua temenku cewek dan aku tidak bertemu ketiga cowok yang mencariku.
.
Salah satu di antaranya menelponku.
.
"ukhti?? Finte?
"Fith Thoriq akh."
"Ayyuth Thoriq ti? Nahnu fith thoriq aidlon."
"Ana ma'a ashdiqo'i akh".
.
Lanjut bahwa indo aja ya he..
.
"loh katanya Amal ukhti hilang?
"Haa ndak akh, saya ini sama amal lagi nyari Ice Cream 😅.
"Asem, igh."katanya.
.
Satu hari telah berlalu. Saat itu kami berada di Bromo. Lalu Seorang bernama Fachri memulai pembicaraan terhadapku.
.
"Ukhti,, kmren kata Amal ukhti hilang? Tapi kata Zen nggak jadi hilang. #Eh.
"Hee,,, bukan hilang akhi,,, cuma kehilangan jejak tmn2 saja waktu itu. "
"Wahh ukhti,,, tau gk waktu amal kasih kabar ukhti hilang itu, Fachri, Zein dan Agung langsung nyariin ukhti. Dan pada akhirnya kami gk bertemu ukhti karena di tengah perjalanan salah satu rantai sepeda kami putus ti. Nah untungnya ukhti sudah bertemu Amalia.
"Duh, aku jadi ndak enak, padahal aku sudah bilang sama Zen di telpon, gk usah cariin aku. Aku tau jalannya kembali, cuma nunggu Amalia dan naily saja. Tapi dia malah nyariin."
"Iya ti,,, Kami tuh khawatir sama ukhti,, malam2 hilang, sendirian lagi.
.
Duhh bicarain mereka jadi Rindu berat hhmmmzzz... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Saat itu aku dan kedua temanku bersepeda dimalam hari. Mencari ATM. Selain ambil uang juga buat transfer beli buku wkwkwk.. Nah tau sendiri kalau di Pare jauh dari ATM. Dan curi2 waktu untuk ke Atm tuh emm bgt dah.. Akhirnya malam dah kami ke ATM, kok boleh ya? Haa saat itu udah selesai Imtihan sih, jadi udah free hafalan. Nah terus waktu kedua temenku ke ATm BNI aku masih lanjut menggayuh sepedaku dan berpesan :
.
"Jgn kemana2 ya, tunggu aku di sini aja, mau ke depan sebentar di BRI. "
.
Bukan keberuntungan, BRI sedang perbaikan. ðŸ˜.
.
Nah trus aku kembali ke tempat kedua temenku tadi. Dan ternyata mereka gk ada. Aku gk mau pergi dulu sembari menghubungi mereka. Aku duduk diteras depan BNI, lalu ada seorang laki2 mendekatiku. Uhh seluruh tubuhku gemeteran tuh. Penampilan nya seperti preman. Aku bergeser dan ia malah bergeser. Aku bangkit menuju pinggiran jalan. Belum juga bertemu kedua temenku.
.
Aku membuka Whatsapp dan ternyata di grup rame pada nyariin aku. Salah satu dari kedua temenku lapor di grup bahwa diriku hilang 'katanya'.
.
Ketiga temenku laki2 langsung cuus pergi dengan sepeda ontel nya masing2 untuk mencari aku.
.
Behh jadi rame tuh pada saling mencari wkwkw... Dan aku masih sante aja di pinggir jalan.
.
Nah tak lama kemudian aku lebih dulu bertemu kedua temenku cewek dan aku tidak bertemu ketiga cowok yang mencariku.
.
Salah satu di antaranya menelponku.
.
"ukhti?? Finte?
"Fith Thoriq akh."
"Ayyuth Thoriq ti? Nahnu fith thoriq aidlon."
"Ana ma'a ashdiqo'i akh".
.
Lanjut bahwa indo aja ya he..
.
"loh katanya Amal ukhti hilang?
"Haa ndak akh, saya ini sama amal lagi nyari Ice Cream 😅.
"Asem, igh."katanya.
.
Satu hari telah berlalu. Saat itu kami berada di Bromo. Lalu Seorang bernama Fachri memulai pembicaraan terhadapku.
.
"Ukhti,, kmren kata Amal ukhti hilang? Tapi kata Zen nggak jadi hilang. #Eh.
"Hee,,, bukan hilang akhi,,, cuma kehilangan jejak tmn2 saja waktu itu. "
"Wahh ukhti,,, tau gk waktu amal kasih kabar ukhti hilang itu, Fachri, Zein dan Agung langsung nyariin ukhti. Dan pada akhirnya kami gk bertemu ukhti karena di tengah perjalanan salah satu rantai sepeda kami putus ti. Nah untungnya ukhti sudah bertemu Amalia.
"Duh, aku jadi ndak enak, padahal aku sudah bilang sama Zen di telpon, gk usah cariin aku. Aku tau jalannya kembali, cuma nunggu Amalia dan naily saja. Tapi dia malah nyariin."
"Iya ti,,, Kami tuh khawatir sama ukhti,, malam2 hilang, sendirian lagi.
.
Duhh bicarain mereka jadi Rindu berat hhmmmzzz... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Rabu, 22 November 2017
Cinta dalam Derita
Cinta dalam Derita
Irama hati tiada lagi dendangkan
sebuah makna
Yang kerap kali kupalsukan tuk
tenangkan lara
Amarah lelehkan kaca hatiku yang tak
mampu menggapaimu
Terperangkap dalam awan kecil yang
mendungkanku
Matamu pancarkan rasa yang cukup getarkan jiwa
Senyummu buncahkan hatiku yang telah
lama bersembunyi
Buatku sulit tanpamu
Namun, kau diam saja
Kau
hanya terpaku dan terpana menyaksikanku
Semarang, 22 November 2017
Kamis, 12 Oktober 2017
Sebuah kenangan tentang Matematika
Sebuah kenangan tentang Matematika
Ketika aku membaca sebuah buku yang
berjudul Tuhan pasti ahli Matematika, aku teringat akan kenangan tentang
Matematika. Kisah tentang seseorang yang mencintai ilmu matematika. Dahulu
untuk mempertimbangkan kemahiran seseorang itu dengan mengukur seberapa pandai
ia dalam bidang matematika. Bahkan seseorang yang bernama Zaza yang bisa
dibilang nihil dalam bidang bahasa, baik bahasa inggris ataupun bahasa arab.
Tetapi, Matematika lah pelajaran yang terlihat paling unggul yang ia pahami.
Guru les terbaik matematika baginya adalah ayah Zaza sendiri. Bahkan, setiap
hari ia selalu disuruh mengerjakan soal-soal matematika. Walaupun besok
dibangku sekolah tidak mempelajari ilmu matematika.
Saat ia duduk di bangku SD, guru yang
terkenal paling muda dan paling ganteng adalah guru matematika. Tidak heran,
jika seorang guru itu lebih menyayangi siswanya yang pandai dalam keilmuan yang
diajarkannya. Hingga seluruh teman-teman Zaza iri karena gurunya terlihat pilih
kasih saat itu. Menurutku, bukan karena kepandaian Zaza dalam matematika. Namun,
karena ia dahulu adalah siswa pendiam yang takut menghadapi banyak orang, tidak
banyak bicara, dan tidak banyak ulah. Dengan itu guru matematikanya memberi
perhatian lebih terhadap Zaza. Disamping itu karena rumah Zaza yang paling
jauh. Dan ia selalu menunggu jemputan orang tuanya sembari duduk di depan
sekolah seorang diri dan tanpa kata. Jadi, tidak heran jika banyak guru yang memberi
perhatian lebih terhadapnya. Bukan
karena kepandaian, tapi karena belas kasihan.
Saat SMP ia rasanya lupa mencintai
ilmu matematika. Ia tidak terlalu memperhatikan semua pelajaran sekolah. Bukan
karena tidak suka lagi, namun, di masa itu ia menomor tigakan ilmu sekolah.
Yang paling diutamakan baginya saat dipesantren adalah hafalan Al-Qur’annya. Ia
sangat antusias untuk menghatamkan Al-Qur’annya ketika lulus SMP nanti. Tapi
semua itu tidak terjadi. Karena guru Al-Qur’annya selalu memberhentikan
hafalannya tiap naik juz. Harapannya agar ia terus murojaah yang baru saja
dihafalnya. Karena tanggungan ia saat di pesantren bukan hanya hafalan
Al-Qur’an, namun wajib mempelajari ilmu alat dan kitab kuning. Selain itu ia
tergolong paling muda dengan memperoleh hafalan yang bisa dibilang cukup banyak
saat itu. Karena ia telah hafal 6 juz dimasa SD. Jadi, dengan itu gurunya tidak
ingin ia mendahului kakak-kakak yang lebih tua dalam menghatamkan hafalannya.
Sebagai ajaran untuk mrnghormati yang lebih tua. Karena dimasa itu belum ada
yang menghafalkan Al-Qur’an di waktu masih sekolah. Mereka kebanyakan menekuni
ilmu alat dimasa sekolahnya. Setelah lulus SMA mereka baru memfokuskan dirinya
untuk menghafalkan Al-Qur’an.
Tapi Zaza tidak pernah melupakan
ilmu Matematika. Walaupun ia menekuni agamanya. Dalam mempelajari ilmu Alat
atau yang biasa disebut ilmu Nahwu dan Shorof, ia merasakan betul bahwa
mempelajari ilmu ini bagaikan mempelajari ilmu matematika. Jadi ia sangat
bersemangat menekuni ilmu alat tersebut. Ia selalu antusias untuk menjadi yang
terbaik dalam pemahamannya. Bahkan, ketika ia berada dipuncak kebosanan akibat
banyak pikiran, teman-temannya selalu mengobarkan semangatnya dengan cara
mereka mendatangi Zaza dan meminta bantuan untuk memahami sub bab tertentu dari
ilmu alat yang tidak ia pahaminya. Ia tidak pernah lupa menyampaikan kepada
temannya bahwa ilmu nahwu atau shorof itu seperti ilmu matematika. Ia selalu
membandingkan dan memberi contoh terhadap teman-temannya.
Menjelang SMA ia berkeinginan untuk
fokus melancarkan hafalannya yang kini hampir khatam. Dan ia bercita-cita untuk
bisa mempelajari ilmu alat sampai tingkat Alfiyah. Akan tetapi, orang tuanya
tidak menyetujuinya. Orang tuanya menginginkan anaknya untuk meneruskan
sekolahnya di luar yang sudah diakui oleh pemerintah. Menurut Zaza, itu adalah
hal yang pahit. Karena menjadi tantangan baginya. Untuk duduk di bangku SMA
tidak se santai saat di MTS. SMA adalah jenjang atas yang tidak main-main.
Dalam angannya selalu terbayangkan. Ini adalah suatu yang berat bagi Zaza.
Untuk menguasai tiga bidang yang berbeda itu tidaklah sulit. Harus merelakan
salah satunya. Semua teman-teman dipesantrennya tidak ada yang menekuni tiga
bidang. Ada kalanya yang hanya fokus menghafalkan Al-Qur’an. Ada kalanya yang
hanya fokus menekuni seluruh kajian kitab-kitabnya. Bahkan ada yang hanya suka
dengan pelajaran sekolah saja. Bagi Zaza, tidak mungkin ia merelakan salah
satunya. ia sudah terlanjur cinta terhadal Al-Qur’an dan kajian kitab yang
keduanya saling bersangkutan. Tetapi, amanah orang tuanya tidak boleh
diabaikan. Akhirnya ia menerima keputusan untuk melanjutkan sekolah di SMA.
Saat-saat yang rumit baginya. Ia
harus menjalani sekolah dengan keadaan satu kelas dengan seorang yang biasa
disebut lelaki. Ini tantangan terbesar dalam kehidupannya. Ia sungguh takut
dengan yang namanya lelaki. Kecuali gurunya. Sejak SMP ia tidak pernah satu
kelas dengan lelaki. Hingga saat itu teman-temannya selalu menggodainya dengan
salah satu lelaki yang berada di pondok Nurul Huda. Dan jelas bahwa Zaza tidak
pernah tau siapa lelaki yang selalu digodain temannya untuk Zaza. Di pesantren
ia selalu dijuluki kekasih Al-Qur’an dan kitab. Sangat disayangkan kini ia
setiap hari akan selalu bertemu dengan lelaki.
Masa-masa pertama ia masuk dan duduk
di bangku SMA. Seluruh jiwanya terasa terbakar tiap ada lelaki yang masuk
kelas, sangat sakit, ia tak pernah berani untuk memandangnya. Karena masa SMA
berbeda dengan SMP, dan iapun harus mentaati peraturan dan tugas-tugas yang
diberikan oleh gurunya. Hal pertama yang dianggapnya konyol yaitu saat Zaza disuruh
memperkenalkan dirinya di depan kelas menggunakan bahasa inggris. Ia adalah
siswa pertama yang disuruh maju oleh gurunya. Bukan karena takut tidak bisa,
karena ia tak pernah terbayang ketika suaranya akan di dengar oleh para lelaki.
Ia memperkenalkan diri dengan menahan suaranya, jelas sang guru terus
menegurnya. Ia harus bersuara tegas dan lantang. Disinilah perjalanan Zaza
berubah. Ia mengubah prinsip hidupnya. Tidak selamanya ia hidup dilingkungan
para perempuan saja. Esok pun ia akan memiliki suami. Sejak itu ia lebih
memberanikan dirinya untuk PD. Bukan untuk mendekati para lelaki, tetapi lebih
PD untuk maju di depan umum yang ada para lelakinya.
Kembali bercerita tentang
Matematika. Di bangku SMA Matematika adalah ilmu wajib yang akan diujikan
Nasional saat kelulusan. Selama tiga tahun di MTS, seolah ia tak pernah ingat
bagaimana cara mempelajari Matematika. Saat SMA ia memulai lagi bertemu
matematika. Yang jelas matematika sekolah, bukan matematika pesantren yang
biasa disebut dengan ilmu alat. Tidak lupa semua. Keahlian yang dimilikinya
saat SD masih mengalir hingga ia berada di SMA. Yaitu ahli Matema
tika.
Ia selalu menjadi siswa kesayangan disekolahnya, karena Matematika. Akan tetapi,
ketika ada Olimpiade, ia tak pernah ikut, walaupun ia SMA, tapi ia masih
terikat peraturan pesantren, ia tidak boleh mengikuti kegiatan ekstra sekolah.
Termasuk mengikuti Olimpiade.
Akan tetapi, itu bukan suatu
kesedihan bagi Zaza, karena pencarian ilmu di sekolah ini menduduki urutan
ketiga, setelah mempelajari ilmu kitab kuning serta kaidahnya. Hingga menjelang
kelulusan, banyak guru yang merekomendasikannya untuk melanjutkan ke perguruan
tinggi di jurusan matematika. Namun, ia tidak mau. Ia telah mencantumkan dalam
jiwanya bahwa ia tidak mau lagi mempelajari ilmu dunia. Ia ingin terus menekuni
ilmu agama-agamanya. Tapi kenyataan itu berpindah karena orang tuanya memaksa
Zaza untuk kuliah. Zaza tidak bisa membantah lagi. Yang perlu disyukuri yaitu orang
tua Zaza tidak menuntut Zaza untuk memasuki jurusan tertentu. Dan pada akhirnya
dengan keisengan ia daftar pada jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Menurutnya
jurusan tersebut akan memperdalam kajian-kajian agama tentunya kitab-kitab
ataupun kaidahnya seperti ilmu nahwu dan
shorof yang ia sukainya.
Semua guru disekolah heran dengan
pilihannya. Iya, memang ia diterima di perguruan tinggi negri tanpa tes. Akan
tetapi, jurusan yang dipilihnya tidak meyakinkan. Apakah ia akan bisa bertahan
sampai menjadi sarjana sastra arab? Pertanyaan itu selalu muncul oleh seorang
guru yang ahli ilmu Balaghoh dan Mantiq. Walapun Zaza disekolah terkenal paling
bagus nilai pelajaran ilmu Balaghoh dan Mantiqnya, itu belum menjamin ia
menguasai di bangku kuliahnya. Karena pembahasannya lebih luas dan lebih rumit
lagi. Apakah Zaza akan sukses dengan tantangan yang diambilnya saat ini?
tantangan yang tidak pernah terbayang oleh dirinya, orang tuanya, bahkan semua
guru-gurunya. Bagi mereka jurusan sastra arab itu sulit dan tidak jelas
prospeknya.
Dan
iapun tidak akan menemui ilmu matematika lagi? Seperti itukah nanti?
Rabu, 11 Oktober 2017
Surah Rindu
Surah Rindu
By : Wanita Biasa
Ku temukan bayangmu dalam kerinduanku
Masih tersimpan erat dalam imajinasiku
yang selalu kulantunkan melalui lisanku
Untukmu sang kekasih hatiku
Kelembutan cintamu yang selalu kudamba
Dalam jiwa rendah dan tak berdaya
Bahkan aku tak kan pernah tahu
Apakah Cinta dan rinduku akan sampai kepadamu
Langit tak cukup luas untuk menceritakan tentang kisahmu
Mataharipun tak kan kuasa untuk menyamai keagunganmu
Puisiku tak cukup fasih untuk menyebutkan namamu
Hingga hatiku tak kan pernah mampu menerima cahaya Cinta darimu
Salatiga, 11 Oktober 2017
Minggu, 01 Oktober 2017
Lailatu Tasyakur pertama di pesantren Internasional Wali
Semarang-kamis 21 Sepetember 2107. Sore itu terselenggaraya acara Lailatu Tasyakur dalam menyambut tahun
baru islam 1439H untuk pertama kalinya
di sebuah pesantren internasional Wali. Yang mana acara tersebut dihadiri oleh
perangkat desa, seluruh pengasuh, para asatidz, pengurus dan
santriwan-santriwati beserta para walinya.
Memang disetiap wilayah, bahkan disetiap pesantren pun berbeda cara
penyambutannya. Ada yang memiliki tradisi mujahadah, Tidak tidur semalaman,
dll. Namun, di Pesantren ini kami memulai dengan acara sederhana dan berkesan
untuk seluruh umat. Utamanya yang terlibat dalam acara tersebut.
Acara dimulai disore hari dengan pembacaan doa akhir tahun yang
dipimpin oleh ustadz Munib salah satu pengasuh pesantren tersebut. Dan
dilanjutkan sholat maghrib berjamaah, lalu seluruh santriwan-santriwati
menampilkan beberapa ketrampilan yang dimilikinya. Bahkan dari yang masih
berumur 4 tahun. Di pesantren Wali seluruh santri diwajibkan untuk berfikir
kreatif. Dari sini aksi bisa dimulai untuk menunjukkan bakat mereka dihadapan
para walinya.
Tidak hanya berupa penampilan-penampilan dari santri pelajar saja.
Bahkan, seorang santri tertua yang biasa yang dipanggil kakek, ia menampilkan
sebuah puisi untuk membakar semangat juang bagi para santri. Semua bertepuk
riuh. Bangga dan terharu melihat aksi penampilan-penampilan dari bakat para
santri pondok pesantren Internasional Wali.
Terhitung jumlah masyarakat dan santri yang berpartisipasi diacara
ini kurang lebih 50 orang. Usai pembacaan doa awal tahun. Seluruh peserta
disediakan prasmanan sederhana dengan menu sate kambing dan gule. Mereka
menyantap makanan dengan asyik mendengarkan sholawat Al-Banjari dari grup Anak
Suluk Jalanan.
Bisa dikatakan acara ini termasuk acara yang sudah biasa dan
sederhana. Namun, dengan kesederhanaan ini yang sangat dirasakan keberkahannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk merancang seluruh agenda dimalam hari
itu. Hanya tiga hari semua sudah terlaksana dengan baik dengan jumlah panitia 5
orang.
Selain itu, acara tersebut sangat mendidik anak-anak dan warga awam
agar lebih dekat dengan islam. Karena dengan agenda tersebut kita dapat
menghidupkan semangat hijrah untuk membangun kejayaan literasi islam dari
Indonesia. Ujar Ardabilly selaku ketua acara.
Pesan saya untuk semua masyarakat, ikutilah acara-acara yang
mengandung unsur kerohaniannya karena dalam acara seperti itu kita dapat
siraman hati untuk lebih taqwa kepada Alloh Swt. Tambah Ardabilly.
Dari : Sayyidatina Anzalia
OMN
Langganan:
Postingan (Atom)
Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl? Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasis...
-
Cinta dalam Derita Irama hati tiada lagi dendangkan sebuah makna Yang kerap kali kupalsukan tuk tenangkan lara Amarah lelehkan ...
-
Berkah dari Al-Qur’an Mentari pagi yang begitu bersinar menebarkan senyumnya kapada seluruh penduduk dunia. Tidak begitu panas, hanya...