Kamis, 12 Oktober 2017

Sebuah kenangan tentang Matematika



Sebuah kenangan tentang Matematika

            Ketika aku membaca sebuah buku yang berjudul Tuhan pasti ahli Matematika, aku teringat akan kenangan tentang Matematika. Kisah tentang seseorang yang mencintai ilmu matematika. Dahulu untuk mempertimbangkan kemahiran seseorang itu dengan mengukur seberapa pandai ia dalam bidang matematika. Bahkan seseorang yang bernama Zaza yang bisa dibilang nihil dalam bidang bahasa, baik bahasa inggris ataupun bahasa arab. Tetapi, Matematika lah pelajaran yang terlihat paling unggul yang ia pahami. Guru les terbaik matematika baginya adalah ayah Zaza sendiri. Bahkan, setiap hari ia selalu disuruh mengerjakan soal-soal matematika. Walaupun besok dibangku sekolah tidak mempelajari ilmu matematika.
            Saat ia duduk di bangku SD, guru yang terkenal paling muda dan paling ganteng adalah guru matematika. Tidak heran, jika seorang guru itu lebih menyayangi siswanya yang pandai dalam keilmuan yang diajarkannya. Hingga seluruh teman-teman Zaza iri karena gurunya terlihat pilih kasih saat itu. Menurutku, bukan karena kepandaian Zaza dalam matematika. Namun, karena ia dahulu adalah siswa pendiam yang takut menghadapi banyak orang, tidak banyak bicara, dan tidak banyak ulah. Dengan itu guru matematikanya memberi perhatian lebih terhadap Zaza. Disamping itu karena rumah Zaza yang paling jauh. Dan ia selalu menunggu jemputan orang tuanya sembari duduk di depan sekolah seorang diri dan tanpa kata. Jadi, tidak heran jika banyak guru yang memberi perhatian lebih terhadapnya.  Bukan karena kepandaian, tapi karena belas kasihan.
            Saat SMP ia rasanya lupa mencintai ilmu matematika. Ia tidak terlalu memperhatikan semua pelajaran sekolah. Bukan karena tidak suka lagi, namun, di masa itu ia menomor tigakan ilmu sekolah. Yang paling diutamakan baginya saat dipesantren adalah hafalan Al-Qur’annya. Ia sangat antusias untuk menghatamkan Al-Qur’annya ketika lulus SMP nanti. Tapi semua itu tidak terjadi. Karena guru Al-Qur’annya selalu memberhentikan hafalannya tiap naik juz. Harapannya agar ia terus murojaah yang baru saja dihafalnya. Karena tanggungan ia saat di pesantren bukan hanya hafalan Al-Qur’an, namun wajib mempelajari ilmu alat dan kitab kuning. Selain itu ia tergolong paling muda dengan memperoleh hafalan yang bisa dibilang cukup banyak saat itu. Karena ia telah hafal 6 juz dimasa SD. Jadi, dengan itu gurunya tidak ingin ia mendahului kakak-kakak yang lebih tua dalam menghatamkan hafalannya. Sebagai ajaran untuk mrnghormati yang lebih tua. Karena dimasa itu belum ada yang menghafalkan Al-Qur’an di waktu masih sekolah. Mereka kebanyakan menekuni ilmu alat dimasa sekolahnya. Setelah lulus SMA mereka baru memfokuskan dirinya untuk menghafalkan Al-Qur’an.
            Tapi Zaza tidak pernah melupakan ilmu Matematika. Walaupun ia menekuni agamanya. Dalam mempelajari ilmu Alat atau yang biasa disebut ilmu Nahwu dan Shorof, ia merasakan betul bahwa mempelajari ilmu ini bagaikan mempelajari ilmu matematika. Jadi ia sangat bersemangat menekuni ilmu alat tersebut. Ia selalu antusias untuk menjadi yang terbaik dalam pemahamannya. Bahkan, ketika ia berada dipuncak kebosanan akibat banyak pikiran, teman-temannya selalu mengobarkan semangatnya dengan cara mereka mendatangi Zaza dan meminta bantuan untuk memahami sub bab tertentu dari ilmu alat yang tidak ia pahaminya. Ia tidak pernah lupa menyampaikan kepada temannya bahwa ilmu nahwu atau shorof itu seperti ilmu matematika. Ia selalu membandingkan dan memberi contoh terhadap teman-temannya.
            Menjelang SMA ia berkeinginan untuk fokus melancarkan hafalannya yang kini hampir khatam. Dan ia bercita-cita untuk bisa mempelajari ilmu alat sampai tingkat Alfiyah. Akan tetapi, orang tuanya tidak menyetujuinya. Orang tuanya menginginkan anaknya untuk meneruskan sekolahnya di luar yang sudah diakui oleh pemerintah. Menurut Zaza, itu adalah hal yang pahit. Karena menjadi tantangan baginya. Untuk duduk di bangku SMA tidak se santai saat di MTS. SMA adalah jenjang atas yang tidak main-main. Dalam angannya selalu terbayangkan. Ini adalah suatu yang berat bagi Zaza. Untuk menguasai tiga bidang yang berbeda itu tidaklah sulit. Harus merelakan salah satunya. Semua teman-teman dipesantrennya tidak ada yang menekuni tiga bidang. Ada kalanya yang hanya fokus menghafalkan Al-Qur’an. Ada kalanya yang hanya fokus menekuni seluruh kajian kitab-kitabnya. Bahkan ada yang hanya suka dengan pelajaran sekolah saja. Bagi Zaza, tidak mungkin ia merelakan salah satunya. ia sudah terlanjur cinta terhadal Al-Qur’an dan kajian kitab yang keduanya saling bersangkutan. Tetapi, amanah orang tuanya tidak boleh diabaikan. Akhirnya ia menerima keputusan untuk melanjutkan sekolah di SMA.
            Saat-saat yang rumit baginya. Ia harus menjalani sekolah dengan keadaan satu kelas dengan seorang yang biasa disebut lelaki. Ini tantangan terbesar dalam kehidupannya. Ia sungguh takut dengan yang namanya lelaki. Kecuali gurunya. Sejak SMP ia tidak pernah satu kelas dengan lelaki. Hingga saat itu teman-temannya selalu menggodainya dengan salah satu lelaki yang berada di pondok Nurul Huda. Dan jelas bahwa Zaza tidak pernah tau siapa lelaki yang selalu digodain temannya untuk Zaza. Di pesantren ia selalu dijuluki kekasih Al-Qur’an dan kitab. Sangat disayangkan kini ia setiap hari akan selalu bertemu dengan lelaki.
            Masa-masa pertama ia masuk dan duduk di bangku SMA. Seluruh jiwanya terasa terbakar tiap ada lelaki yang masuk kelas, sangat sakit, ia tak pernah berani untuk memandangnya. Karena masa SMA berbeda dengan SMP, dan iapun harus mentaati peraturan dan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Hal pertama yang dianggapnya konyol yaitu saat Zaza disuruh memperkenalkan dirinya di depan kelas menggunakan bahasa inggris. Ia adalah siswa pertama yang disuruh maju oleh gurunya. Bukan karena takut tidak bisa, karena ia tak pernah terbayang ketika suaranya akan di dengar oleh para lelaki. Ia memperkenalkan diri dengan menahan suaranya, jelas sang guru terus menegurnya. Ia harus bersuara tegas dan lantang. Disinilah perjalanan Zaza berubah. Ia mengubah prinsip hidupnya. Tidak selamanya ia hidup dilingkungan para perempuan saja. Esok pun ia akan memiliki suami. Sejak itu ia lebih memberanikan dirinya untuk PD. Bukan untuk mendekati para lelaki, tetapi lebih PD untuk maju di depan umum yang ada para lelakinya.
            Kembali bercerita tentang Matematika. Di bangku SMA Matematika adalah ilmu wajib yang akan diujikan Nasional saat kelulusan. Selama tiga tahun di MTS, seolah ia tak pernah ingat bagaimana cara mempelajari Matematika. Saat SMA ia memulai lagi bertemu matematika. Yang jelas matematika sekolah, bukan matematika pesantren yang biasa disebut dengan ilmu alat. Tidak lupa semua. Keahlian yang dimilikinya saat SD masih mengalir hingga ia berada di SMA. Yaitu ahli Matema
tika. Ia selalu menjadi siswa kesayangan disekolahnya, karena Matematika. Akan tetapi, ketika ada Olimpiade, ia tak pernah ikut, walaupun ia SMA, tapi ia masih terikat peraturan pesantren, ia tidak boleh mengikuti kegiatan ekstra sekolah. Termasuk mengikuti Olimpiade.
            Akan tetapi, itu bukan suatu kesedihan bagi Zaza, karena pencarian ilmu di sekolah ini menduduki urutan ketiga, setelah mempelajari ilmu kitab kuning serta kaidahnya. Hingga menjelang kelulusan, banyak guru yang merekomendasikannya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di jurusan matematika. Namun, ia tidak mau. Ia telah mencantumkan dalam jiwanya bahwa ia tidak mau lagi mempelajari ilmu dunia. Ia ingin terus menekuni ilmu agama-agamanya. Tapi kenyataan itu berpindah karena orang tuanya memaksa Zaza untuk kuliah. Zaza tidak bisa membantah lagi. Yang perlu disyukuri yaitu orang tua Zaza tidak menuntut Zaza untuk memasuki jurusan tertentu. Dan pada akhirnya dengan keisengan ia daftar pada jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Menurutnya jurusan tersebut akan memperdalam kajian-kajian agama tentunya kitab-kitab ataupun  kaidahnya seperti ilmu nahwu dan shorof yang ia sukainya.
            Semua guru disekolah heran dengan pilihannya. Iya, memang ia diterima di perguruan tinggi negri tanpa tes. Akan tetapi, jurusan yang dipilihnya tidak meyakinkan. Apakah ia akan bisa bertahan sampai menjadi sarjana sastra arab? Pertanyaan itu selalu muncul oleh seorang guru yang ahli ilmu Balaghoh dan Mantiq. Walapun Zaza disekolah terkenal paling bagus nilai pelajaran ilmu Balaghoh dan Mantiqnya, itu belum menjamin ia menguasai di bangku kuliahnya. Karena pembahasannya lebih luas dan lebih rumit lagi. Apakah Zaza akan sukses dengan tantangan yang diambilnya saat ini? tantangan yang tidak pernah terbayang oleh dirinya, orang tuanya, bahkan semua guru-gurunya. Bagi mereka jurusan sastra arab itu sulit dan tidak jelas prospeknya.

Dan iapun tidak akan menemui ilmu matematika lagi? Seperti itukah nanti?
           

Rabu, 11 Oktober 2017

Surah Rindu


Surah Rindu
By : Wanita Biasa

Ku temukan bayangmu dalam kerinduanku
Masih tersimpan erat dalam imajinasiku
yang selalu kulantunkan melalui lisanku
Untukmu sang kekasih hatiku

Kelembutan cintamu yang selalu kudamba
Dalam jiwa rendah dan tak berdaya
Bahkan aku tak kan pernah tahu
Apakah Cinta dan rinduku akan sampai kepadamu

Langit tak cukup luas untuk menceritakan tentang kisahmu
Mataharipun tak kan kuasa untuk menyamai keagunganmu
Puisiku tak cukup fasih untuk menyebutkan namamu
Hingga hatiku tak kan pernah mampu menerima cahaya Cinta darimu

Salatiga, 11 Oktober 2017

Minggu, 01 Oktober 2017



Lailatu Tasyakur pertama di pesantren Internasional Wali
Semarang-kamis 21 Sepetember 2107. Sore itu terselenggaraya acara           Lailatu Tasyakur dalam menyambut tahun baru islam 1439H  untuk pertama kalinya di sebuah pesantren internasional Wali. Yang mana acara tersebut dihadiri oleh perangkat desa, seluruh pengasuh, para asatidz, pengurus dan santriwan-santriwati beserta para walinya.
Memang disetiap wilayah, bahkan disetiap pesantren pun berbeda cara penyambutannya. Ada yang memiliki tradisi mujahadah, Tidak tidur semalaman, dll. Namun, di Pesantren ini kami memulai dengan acara sederhana dan berkesan untuk seluruh umat. Utamanya yang terlibat dalam acara tersebut.
Acara dimulai disore hari dengan pembacaan doa akhir tahun yang dipimpin oleh ustadz Munib salah satu pengasuh pesantren tersebut. Dan dilanjutkan sholat maghrib berjamaah, lalu seluruh santriwan-santriwati menampilkan beberapa ketrampilan yang dimilikinya. Bahkan dari yang masih berumur 4 tahun. Di pesantren Wali seluruh santri diwajibkan untuk berfikir kreatif. Dari sini aksi bisa dimulai untuk menunjukkan bakat mereka dihadapan para walinya.
Tidak hanya berupa penampilan-penampilan dari santri pelajar saja. Bahkan, seorang santri tertua yang biasa yang dipanggil kakek, ia menampilkan sebuah puisi untuk membakar semangat juang bagi para santri. Semua bertepuk riuh. Bangga dan terharu melihat aksi penampilan-penampilan dari bakat para santri pondok pesantren Internasional Wali.
Terhitung jumlah masyarakat dan santri yang berpartisipasi diacara ini kurang lebih 50 orang. Usai pembacaan doa awal tahun. Seluruh peserta disediakan prasmanan sederhana dengan menu sate kambing dan gule. Mereka menyantap makanan dengan asyik mendengarkan sholawat Al-Banjari dari grup Anak Suluk Jalanan.
Bisa dikatakan acara ini termasuk acara yang sudah biasa dan sederhana. Namun, dengan kesederhanaan ini yang sangat dirasakan keberkahannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk merancang seluruh agenda dimalam hari itu. Hanya tiga hari semua sudah terlaksana dengan baik dengan jumlah panitia 5 orang.
Selain itu, acara tersebut sangat mendidik anak-anak dan warga awam agar lebih dekat dengan islam. Karena dengan agenda tersebut kita dapat menghidupkan semangat hijrah untuk membangun kejayaan literasi islam dari Indonesia. Ujar Ardabilly selaku ketua acara.
Pesan saya untuk semua masyarakat, ikutilah acara-acara yang mengandung unsur kerohaniannya karena dalam acara seperti itu kita dapat siraman hati untuk lebih taqwa kepada Alloh Swt. Tambah Ardabilly.

Dari     : Sayyidatina Anzalia OMN

Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl? Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasis...