Minggu, 28 Januari 2018

Ketika Dokter Tak Mampu Menyembuhkanku

"Ketika Dokter Tak Lagi Menyembuhkanku"

Bermula ketika kelas 2 SD, dari sinilah aku mulai diberi penyakit yang entah apa namanya. Bahkan dokterpun tak mengerti sebutannya. Yang jelas, itu penyakit luar, berada di leher, dan melarangku makan dan minum berbagai jenis. Terlebih makanan dan minuman yg disukai anak kecil, dimasaku.
.
Bertahun-tahun aku menderita itu, sesekali tubuhku melemah. Sesekali bertambah parah. Berobat dimana-mana pun sarannya hanya satu, yakni 'Operasi'.  Betapa tidak? Orang tuaku jelas tak tega melihatku menjalani operasi dimasa kecilku.
.
Menginjak kelas 5 SD.  Orang tuaku memutuskan agar aku dioperasi. Aku menangis dipangkuan Ibu. Aku merasa bahwa inilah kehidupan terakhirku. Sering ku dengar bahwa jarang terselamatkan nyawa seseorang yang telah menjalani operasi. Hari terakhir sebelum diriku dioperasi, banyak jiwa-jiwa yang menghantiku. Setiap aku melewati lorong rumah sakit, sering kutemukan mayat tergeletak diatas ranjang yang didorong oleh para dokter. Hatiku menangis. Aku belum siap menerima kenyataan. Setiap kali aku melihat nyawa di dorong diatas ranjang, aku menjerit dan merangkul ayah. Ayahku menutupi kedua mataku. Dan air mataku mengalir deras di lengannya.
.
Saatnya operasi telah tiba, saat aku duduk dikursi roda dan didorong suster untuk memasuki kamar operasi, aku memegang erat tangan Ibu, aku tak mau terpisahkan. Aku menangis, menjerit, seketika itu pula aku langsung  tak sadarkan diri.
.
Operasi telah usai, dan aku bersyukur ketika aku sadar bahwa mataku masih mampu menyapa dunia yang fana ini. Namun, ketika aku mau pulang, sang dokter berpesan kepada Ibu, dan aku mendengarnya.
.
"Bu, jangan kaget jika penyakit anak Ibu datang lagi, Sebab operasi tak bisa dilakukan hanya sekali, harus berkali-kali. Minimal 3-5 kali. Karena masih banyak akar yang tak bisa dibersihkan sekali saja."
.
Ibuku terkejut mendengar kabar yang sama sekali tak membahagiakan itu. Tapi ia tetap sabar merawatku.
.
Beberapa minggu kemudian, Aku mulai merasa kesakitan di tenggorokanku. Setelah diperikasa, ternyata ada 'Amandel' yang hinggap ditenggorokanku. Jelas ini berbeda dengan penyakit sebelumnya. Aku masih menjauhi makanan dan minuman yang dilarang dokter. Ketika aku benar-benar tak mampu menelan ludahpun, akhirnya aku dibawa ke Rumah sakit. Lagi-lagi dokter menyarankan ku untuk operasi. Bagaimana tega? Di umurku yang masih duduk di kelas 5 SD harus operasi berkali-kali. Ibu dan Ayahku menolak. Mereka memutuskan agar aku dirawat aja di Rumah sakit, tanpa operasi.
.
Kurang lebih satu minggu diriku terbaring lemah di Rumah sakit. Berkali-kali darahku diambil, dan berkali-kali pula darah tersendat dipertengahan suntik disebabkan darahku yang sedikit mengalirnya. Tubuhku semakin kecil, terlihat kulit yang melekat pada tulang. Beberapa kali darah terbuang akibat aliran pengambilan yang tidak sempurna. Aku mengaduh, tapi dokter tak peduli.
.
Dua tahun kemudian, aku sudah terbiasa mengalami kambuh tidaknya penyakit 'Amandel'.  Dan bekas operasipun tumbuh kembali. Ketika aku di Pesantren, Bu Nyai menasihati diriku.
.
"Nduk,,, Jangan lupa, di setiap usai bacaan alquran mu, tiupkan ketelapak tanganmu, lalu usaplah dilehermu. Semoga penyakit itu dihilangkan oleh Alloh, tanpa operasi lagi."
.
Aku jalani petuah Bu Nyai, bertahun-tahun rutin dengan keadaan seperti itu. Bahkan ketika Romadlon, dimana semua santri berbondong-bondong mencari es batu, mencari minuman yang segar untuk berbuka puasa, sedangkan aku hanya siap dengan segelas air putih. Bahkan temanku selalu iba ketika melihatku. Beberapa kali mereka membujukku untuk mencoba minum bersamanya. Es yang menyegarkan ditenggorokan mereka, terlebih saat berbuka puasa bersama. Namun, aku tak bisa menerima nya.
.
Menginjak SMA, kejaiban itu datang. Penyakit luar yang mewajibkan operasi berkali-kali itu sudah tak tampak lagi. Ketika aku pulang, ibuku kaget melihat tenggorokan ku.
.
"Loh,, tenggorokan mu sudah bersih? Sejak kapan?"
.
Bahkan akupun tak sadar sejak kapan

Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl? Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasis...