Senin, 25 Desember 2017

Berkah dari Al-Qur'an



Berkah dari Al-Qur’an
Mentari pagi yang begitu bersinar menebarkan senyumnya kapada seluruh penduduk dunia. Tidak begitu panas, hanya saja sedikit menembus kain-kain hijau yang menjadi hiasan sederet kafilah MTQ Umum saat pelaksanaan upacara sebelum pemberangkatan. Nampaklah wajah bersinar dengan mata sayu, tiada gurat senyum darinya. Sesekali ia menghembuskan nafasnya dalam rangkaian harapan-harapannya.
Rupanya, Zaky (17) begitu khusyu’ dalam dekapan do’a-do’a. Bahkan, ia pun tak mengetahui kapan berakhirnya upacara pemberangkatan tersebut. Lisannya tak pernah berhenti berdzikir. Matanya tak pernah terpejam hanya untuk menghapus lelah. Sesekali ia rebahkan bahunya di deretan kursi-kursi yang didudukinya.
Sudah dua tahun ini, Zaky menghafal Al-Qur’an. Sebagai santri pondok pesantren As-Surkati yang mewajibkan seluruh santrinya untuk menghafal Al-Qur’an dan juga menjadikan bahasa Arab dan inggris sebagai bahasa kesehariannya. Al-Qur’an yang dihafalnya nyaris khatam. Oleh sebab itulah ia berani mengambil keputusan untuk memilih cabang lomba Tafsir Bahasa Inggris dan Tahfidz 15 Juz di tingkat Provinsi.
Ini merupakan kesempatan pertama bagi kota Salatiga untuk mengirim kafilah cabang Tafsir Bahasa Inggris dan Tahfidz 15 juz. Begitupula dengan Zaky sebagai peserta pertama dari kota Salatiga yang tentunya belum berpengalaman dibidang tersebut. Namun, keyakinannya begitu kuat. Usahanya tak bisa dihianati. Ia pun berhasil membawa nama harum kota Salatiga.
Tafsir bahasa Inggris merupakan tantangan bagi para penghafal Al-Qur’an se usianya? Mengapa? Sebab lawannyapun sudah berumur lebih dari 20 tahun. Sedangkan ia sendiri masih berumur 17 tahun. Sesekali ia gabung dengan para kafilah MTQ cabang Tafsir Bahasa Arab untuk belajar tafsir bersama . Hingga Gus Ud pun mengatakan, “Aku dulu se-usiamu tidak sepintar kamu Le.”  
Hari yang telah lama dinanti-nanti akan segera tiba. Semua peserta MTQ Umum tentu hatinya berdegup kencang. Terutama para finalis. Begitupula Zaky. Tak terbayang ketika nama Ahmad Zaky tertutur jelas oleh dewan hakim dengan menyebutkan juaranya. Ialah nama yang dipanggil pertama. Ini adalah sebuah petanda bahwa Zaky peraih juara pertama.
Kabar bahagia yang begitu memikat. Ini adalah sebuah kebanggan bagi kota Salatiga yang mana salah satu kafilahnya berhasil menjadi juara pertama dan akan siap diikutkan ke ajang Nasional di Medan pada tahun 2018.
Kota Salatiga yang tidak begitu luas, sedangkan penduduknya dari berbagai macam Agama, pernah mendapat cibiran dari anggota Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jateng. Bahwasanya Salatiga tidak ada harapan untuk menjadi terbaik diajang perlombaan ini. Namun, kali ini cibiran itu berubah menjadi acungan jempol. 9 peserta dengan berbagai macam cabang perlombaan yang berhasil menjadikan Salatiga menempati 10 besar prestasi terbaik se-Jateng. Begitupun tahun depan Provinsi Jawa Tengah akan memilih kota Salatiga sebagai delegasi cabang lomba Tafsir Bahasa Inggris dan Tahfidz 15 juz di Medan.
            Zaky tidak menyiakan kesempatan yang sekaligus amanah besar ini. dengan jalan inilah yang akan terus mendorong Zaky untuk terus belajar menjadi mufassir bahasa inggris terbaik. Harapannya “Selain mufassir dan mufassiroh yang telah banyak menafsirkan Al-Qur’an dengan bahasa Indonesia atau bahasa Arab, kini saya ingin menjadi mufassir bahasa Inggris. Tentunya tidak luput dengan membaca kitab tafsir berbahasa Indonesia ataupun bahasa Arab yang telah tersebar di seluruh penjuru umat islam. Harapan saya, Muslim di Benua Amerika dan sekitarya mampu menelaah tafsir Al-Qur’an dengan mudah sesuai bahasa kesehariannya.” Ujarnya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Salatiga, 24 Desember 2017

Senin, 04 Desember 2017

Memoar in Pare

Memoar in Pare


Saat itu aku dan kedua temanku bersepeda dimalam hari. Mencari ATM. Selain ambil uang juga buat transfer beli buku wkwkwk.. Nah tau sendiri kalau di Pare jauh dari ATM. Dan curi2 waktu untuk ke Atm tuh emm bgt dah.. Akhirnya malam dah kami ke ATM, kok boleh ya? Haa saat itu udah selesai Imtihan sih, jadi udah free hafalan. Nah terus waktu kedua temenku ke ATm BNI aku masih lanjut menggayuh sepedaku dan berpesan :
.
"Jgn kemana2 ya, tunggu aku di sini aja, mau ke depan sebentar di BRI. "
.
Bukan keberuntungan, BRI sedang perbaikan. 😭.
.
Nah trus aku kembali ke tempat kedua temenku tadi. Dan ternyata mereka gk ada. Aku gk mau pergi dulu sembari menghubungi mereka. Aku duduk diteras depan BNI, lalu ada seorang laki2 mendekatiku. Uhh seluruh tubuhku gemeteran tuh. Penampilan nya seperti preman. Aku bergeser dan ia malah bergeser. Aku bangkit menuju pinggiran jalan. Belum juga bertemu kedua temenku.
.
Aku membuka Whatsapp dan ternyata di grup rame pada nyariin aku. Salah satu dari kedua temenku lapor di grup bahwa diriku hilang 'katanya'.
.
Ketiga temenku laki2 langsung cuus pergi dengan sepeda ontel nya masing2 untuk mencari aku.
.
Behh jadi rame tuh pada saling mencari wkwkw... Dan aku masih sante aja di pinggir jalan.
.
Nah tak lama kemudian aku lebih dulu bertemu kedua temenku cewek dan aku tidak bertemu ketiga cowok yang mencariku.
.
Salah satu di antaranya menelponku.
.
"ukhti?? Finte?
"Fith Thoriq akh."
"Ayyuth Thoriq ti? Nahnu fith thoriq aidlon."
"Ana ma'a ashdiqo'i akh".
.
Lanjut bahwa indo aja ya he..
.
"loh katanya Amal ukhti hilang?
"Haa ndak akh, saya ini sama amal lagi nyari Ice Cream  ðŸ˜….
"Asem, igh."katanya.
.
Satu hari telah berlalu. Saat itu kami berada di Bromo. Lalu Seorang bernama Fachri memulai pembicaraan terhadapku.
.
"Ukhti,, kmren kata Amal ukhti hilang? Tapi kata Zen nggak jadi hilang. #Eh.
"Hee,,, bukan hilang akhi,,, cuma kehilangan jejak tmn2 saja waktu itu. "
"Wahh ukhti,,, tau gk waktu amal kasih kabar ukhti hilang itu, Fachri, Zein dan Agung langsung nyariin ukhti. Dan pada akhirnya kami gk bertemu ukhti karena di tengah perjalanan salah satu rantai sepeda kami putus ti. Nah untungnya ukhti sudah bertemu Amalia.
"Duh, aku jadi ndak enak, padahal aku sudah bilang sama Zen di telpon, gk usah cariin aku. Aku tau jalannya kembali, cuma nunggu Amalia dan naily saja. Tapi dia malah nyariin."
"Iya ti,,, Kami tuh khawatir sama ukhti,, malam2 hilang, sendirian lagi.
.
Duhh bicarain mereka jadi Rindu berat hhmmmzzz... 😭😭😭😭😭.

Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl? Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasis...