Berkah dari Al-Qur’an
Mentari pagi yang begitu bersinar menebarkan senyumnya kapada
seluruh penduduk dunia. Tidak begitu panas, hanya saja sedikit menembus
kain-kain hijau yang menjadi hiasan sederet kafilah MTQ Umum saat
pelaksanaan upacara sebelum pemberangkatan. Nampaklah wajah bersinar dengan
mata sayu, tiada gurat senyum darinya. Sesekali ia menghembuskan nafasnya dalam
rangkaian harapan-harapannya.
Rupanya, Zaky (17) begitu khusyu’ dalam dekapan do’a-do’a. Bahkan,
ia pun tak mengetahui kapan berakhirnya upacara pemberangkatan tersebut.
Lisannya tak pernah berhenti berdzikir. Matanya tak pernah terpejam hanya untuk
menghapus lelah. Sesekali ia rebahkan bahunya di deretan kursi-kursi yang
didudukinya.
Sudah dua tahun ini, Zaky menghafal Al-Qur’an. Sebagai santri
pondok pesantren As-Surkati yang mewajibkan seluruh santrinya untuk menghafal
Al-Qur’an dan juga menjadikan bahasa Arab dan inggris sebagai bahasa
kesehariannya. Al-Qur’an yang dihafalnya nyaris khatam. Oleh sebab itulah ia
berani mengambil keputusan untuk memilih cabang lomba Tafsir Bahasa Inggris dan
Tahfidz 15 Juz di tingkat Provinsi.
Ini merupakan kesempatan pertama bagi kota Salatiga untuk mengirim
kafilah cabang Tafsir Bahasa Inggris dan Tahfidz 15 juz. Begitupula dengan Zaky
sebagai peserta pertama dari kota Salatiga yang tentunya belum berpengalaman
dibidang tersebut. Namun, keyakinannya begitu kuat. Usahanya tak bisa
dihianati. Ia pun berhasil membawa nama harum kota Salatiga.
Tafsir bahasa Inggris merupakan tantangan bagi para penghafal
Al-Qur’an se usianya? Mengapa? Sebab lawannyapun sudah berumur lebih dari 20
tahun. Sedangkan ia sendiri masih berumur 17 tahun. Sesekali ia gabung dengan
para kafilah MTQ cabang Tafsir Bahasa Arab untuk belajar tafsir bersama .
Hingga Gus Ud pun mengatakan, “Aku dulu se-usiamu tidak sepintar kamu Le.”
Hari yang telah lama dinanti-nanti akan segera tiba. Semua peserta
MTQ Umum tentu hatinya berdegup kencang. Terutama para finalis. Begitupula
Zaky. Tak terbayang ketika nama Ahmad Zaky tertutur jelas oleh dewan hakim
dengan menyebutkan juaranya. Ialah nama yang dipanggil pertama. Ini adalah
sebuah petanda bahwa Zaky peraih juara pertama.
Kabar bahagia yang begitu memikat. Ini adalah sebuah kebanggan bagi
kota Salatiga yang mana salah satu kafilahnya berhasil menjadi juara pertama
dan akan siap diikutkan ke ajang Nasional di Medan pada tahun 2018.
Kota Salatiga yang tidak begitu luas, sedangkan penduduknya dari
berbagai macam Agama, pernah mendapat cibiran dari anggota Lembaga Pengembangan
Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jateng. Bahwasanya Salatiga tidak ada harapan untuk menjadi
terbaik diajang perlombaan ini. Namun, kali ini cibiran itu berubah menjadi
acungan jempol. 9 peserta dengan berbagai macam cabang perlombaan yang berhasil
menjadikan Salatiga menempati 10 besar prestasi terbaik se-Jateng. Begitupun
tahun depan Provinsi Jawa Tengah akan memilih kota Salatiga sebagai delegasi
cabang lomba Tafsir Bahasa Inggris dan Tahfidz 15 juz di Medan.
Zaky tidak menyiakan kesempatan yang
sekaligus amanah besar ini. dengan jalan inilah yang akan terus mendorong Zaky
untuk terus belajar menjadi mufassir bahasa inggris terbaik. Harapannya “Selain
mufassir dan mufassiroh yang telah banyak menafsirkan Al-Qur’an dengan bahasa
Indonesia atau bahasa Arab, kini saya ingin menjadi mufassir bahasa Inggris.
Tentunya tidak luput dengan membaca kitab tafsir berbahasa Indonesia ataupun
bahasa Arab yang telah tersebar di seluruh penjuru umat islam. Harapan saya, Muslim
di Benua Amerika dan sekitarya mampu menelaah tafsir Al-Qur’an dengan mudah
sesuai bahasa kesehariannya.” Ujarnya.
Salatiga,
24 Desember 2017