Misteri Sumur Gantung
Sumur gantung, begitulah orang-orang
tua di kampungku menyebutnya, tepatnya di daerah Madiun. Jujur aku tak pernah
tau sejarahnya hingga sekarang. Dan akupun ingin mencoba mencari sejarahnya.
Telah banyak peristiwa aneh yang akhir-akhir ini sering aku dengar dari para
tetangga.
***
Saat itu aku baru saja memasuki
pesantren Nurul Huda ketika menginjak bangku Tsanawiyah. Yang mana pesantren
itu tidak cukup jauh dari Sumur gantung tersebut. Memang benar kenyataan itu,
namun tidak banyak santri yang telah lama tinggal di pesantren ini dan
mengetahui sejarah sumur itu.
Tiba-tiba Furqon memecah lamunanku.
“Hei, minta tolong anterin aku dong
ke bidan Lasmiarti!, aku ingin cek kesehatan. Akhir-akhir ini kondisi
kesehatanku menurun.”
“OK, kita naik sepeda Onthel ya.”
Zaman di pondok tidak ada santri
yang membawa motor. Hanya beberapa yang membawa sepeda onthel, itupun tidak
genap dari angka empat. Jadi seberapa jauh jarak yang akan kami tempuh untuk
pergi, hanya dengan menggayuh sepeda onthel.
Sepeda onthel ini memang cukup tua
umurnya, melebihi umurku. Layak saja jika tidak selancar perjalanan menggunakan
sepeda onthel yang masih baru. Aku menggayuh tertatih-tatih membonceng Arif
yang bertubuh lumayan besar dariku, namun dia lemah karena kurang sehat.
“Masih kuat Furqon?” tanya Arif
dengan suara melemah.
“Masih Rif. Sebentar lagi sampai
kok, tenang saja!”
Tepat sampai di rumah bidan
Lasmiyarti, aku turun dan mengantarkan Arif masuk kedalam. Sedangkan aku hanya
bisa menunggu di luar. Pandanganku terpusat pada sebuah bangunan di depan rumah
ini. ada sesuatu yang nampak baru, seperti tempat yang layak untuk dikunjungi.
Ada beberapa pepohonan yang tertata layaknya sebuah taman. Penuh tanya dari
dirku. Tempat apa ini, tapi sepi sekali, tidak ada seorangpun yang terlihat
berada disana.
“Ayo pulang Furqon!” lagi-lagi Arif
memecahkan lamunanku.
“Eh sudah selesai Rif? “Bagaimana
kata bu Bidan?”
“Alhamdulillah lambungku sudah pulih
insyaalloh, hanya saja darah rendah ini yang masih melekat ditubuhku. Makanya
aku sering melemah.” Tapi ndak papa kok. Semua akan baik-baik saja. Bu
Bidan juga sudah menyarankan beberapa makanan yang harus aku konsumsi. Seperti
air kacang hijau, daging dan lain sebagainya. Terimakasih ya Furqon sudah mau
mengantarku kesini.”
“Alhamdulillah, yasudah mari kita
pulang!”
Di perjalanan aku masih terpikir
dengan suatu tempat yang aneh tersebut. Aku baru ingat bahwa Arif termasuk
santri lama dari kecil yang berada di desa ini. sembari perjalanan menuju
pesantren aku banyak tanya terhadap Arif mengenai tempat yang aku bilang aneh.
“Arif, ngomong-ngomong kamu
tahu tidak bangunan apa yang ada di depan rumah bu bidan tadi?”
“Oh, itu. Iya aku tahu. Itu Sumur
gantung fur. Jujur, seumur hidup aku tak pernah berani mendekati sumur itu.
Bukan Cuma aku, anak-anak lain di kampung pun sama. Jangankan mendekati
sumurnya. Mendekati tegalnya pun tak berani. Bukan karena takut hantu seperti
yang sering digunakan orangtua kami untuk menakut-nakuti, melainkan karena mata
mencorong bapak-bapak kami yang jauh lebih mengerikan. Ada banyak cerita
tentang kejadian mistis di sekitar sumur gantung itu.”
“kejadian mistis seperti apa Rif
yang kau maksud!” tanyaku penasaran.
“Konon, seorang bocah pernah mencoba
mengetahui rahasia apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam sumur itu. Dengan
tanpa memiliki rasa takut, ia naik dan nengok sumur itu, apa isinya? Bukan air
yang dilihatnya. Namun cairan darah-darah yang baunya sangat tidak sedap. Bocah
itu lari ketakutan, ia pulang dan lapor orangtuanya. Saking ketakutannya ia
langsung muntah darah dan pingsan. Setelah beberapa jam nyawa bocah tersebut
tidak terselamatkan.”
“Konon pula, seorang ibu mencari
kayu bakar di sekitar sumur gantung. untuk kebutuhan sehari-hari, belum pernah
ia mencari kayu bakar disitu. Baru pertama kali saait itu ia terpaksa harus
mencari disana. Setelah ia membawa pulang beberapa bongkah kayu dan menggunakan
selayaknya, malam harinya ia di usik oleh makhluk-makhluk halus penunggu sumur
gantung. Ia terus di hantui dan hantu-hantu itu membunuh ibu itu dengan sangat
tragis.”
“Waw!. Mengerikan sekali Rif,
tapi mengapa sekarang tempatnya terlihat bagus, seperti tempat wisata.”
“Memang benar Fur, dibuat seperti
itu agar tempat itu tidak terkesan menyeramkan.”
“Tapi, apakah hingga sekarang sumur
itu masih angker?”
“Sepertinya iya.”
“Aku masih penasaran Rif, nanti aku
ingin mengamati kesana bersama ketiga sahabatku.”
“Jangan Fur, bahaya!”
“Tenang saja Rif, aku tidak sendiri.
Insyaalloh Alloh menyelamatkanku.”
“Kalau seperti itu mau kamu,
silahkan. Semoga Alloh menjagamu.”
“Terimaksih Rif.”
Tak terasa kamipun tiba di pesantren
setelah menggayuh sepeda onthel sambil berbincang-bincang bersama Arif. Segera
mungkin aku menemui ketiga sahabatku yang juga penasaran dengan sumur gantung
tersebut. Dan kami langsung pergi menuju sumur gantung dengan maniki sepeda
onthel hingga tiba disana.
“Aku terlalu takut untuk mendekat,
telapak kakiku seolah terpacak ke dalam tanah.”
“Ayo Fur jangan pura-pura takut,”
Sahut Imron.
“Ndak kok!”
“Kamu yang ngajak kok malah kamu
yang takut Fur,” tambah Alan.
Aku berusaha mengumpulkan kekuatan
agar bisa melangkahkan kakiku. Kuyakinkan diriku sendiri bahwa sumur itu
sebenarnya aman. Tidak ada apa-apa di sana. Aku memejamkan mata sambil mulai
melangkah dan terus merapal setiap do’a dan ayat Al-Qur’an yang ku ingat agar
tetap merasa aman. Kesadaranku nyaris hilang ketika sesuatu mencengkeram
lenganku begitu kuat dan menyeret tubuhku mejauhi sumur tua itu. Aku sangat
terkejut. Ketika mataku terbuka, aku membalikkan badan. Bapak sudah berdiri
satu langkah di depan, tak menoleh kepadaku sedetik pun, hanya dengus napas.
Imran, Haris, dan Alan terdiam, aku tak berdaya. Geletar aneh, menjalar di
pori-poriku, terasa dari cekalan di lenganku.
Aku berusaha menenangkan hati sambil
terus memandangi punggung Bapak yang berjalan cepat di depanku.
Setelah menyeretku dari sumur
gantung tadi, Bapak hanya terus berjalan cepat tanpa melirikku. Tak ada
kata-kata. Tapi, sorot mata Bapak yang tajam dan mencorong sudah menjelaskan
semuanya. Bukan karena aku telat sekolah, atapun suka main keluar dari
pesantren, tidak. Bapak lebih paham tentang diriku. Tapi, bagaimana Bapak bisa
tahu Aku dan teman-teman mengunjungi sumur gantung itu? Ah, sudahlah. Itu tidak
penting lagi, hukuman lewat tatapan mata bapak jauh lebih penting sekarang.
Tapi, aku harus ngomong apa?
“Apa yang kamu temukan, Le?”
Hanya itu, hanya sebaris pertanyaan
itu, tapi cukup membuatku terpana, seperti pesilat yang kalah tarung sebelum
bertanding. Bapak terus berjalan dengan cepat tanpa sedikitpun menoleh ke
belakang untuk melihatku. Perkataan Bapak membekas dihatiku, aku tidak ingat
kapan terakhir kalinya Bapak menasihatiku dengan didahului pertanyaan yang
menikam jantung. Aku berpikir sejenak, menimbang apakah perlu menjawab atau
tidak, lalu aku putuskan untuk tidak menjawab sekalimat pun. Dalam pengaruh
emosi yang campur aduk, aku bergeming.
“Apa kamu pikir sumur gantung itu
tempat bermain-main?”
Aku berdiri tegak, membeku,
terperangah mendengar pertanyaan Bapak yang tidak pernah kusangka-sangka. Belum
pernah Bapak semarah ini, marah sambil mengumbar pertanyaan yang sungguh sulit
kujawab. Beginilah rasa takut itu, barangkali, menunggu setiap detik berlalu
tanpa tahu apa yang semestinya kulakukan. Tak kusangka ternyata kepergianku ke
sumur gantung bersama teman-teman akan menyulut amarah Bapak. Aku menduga ada
rahasia besar yang disembunyikan oleh Bapak.
“Sesekali dengarlah nasihat
orangtua, Le!” tegas Bapak. “Kamu tidak boleh begini terus, Bapak
capek!”
Seketika itu juga, aku seperti
cacing kepanasan, gemetaran di depan Bapak.
Kamipun terus berjalan tanpa
mengucapkan sepatah kata.
Aku tak akan pernah lagi mendekati
sumur gantung itu. Bahkan, mendekati tegalannya. Kemarahan Bapak lewat tatapan
matanya sangat membekas di kedalaman hati.
Tak perlu ada penasaran hanya untuk
menerima amarah tersembunyi Bapakku. Cukuplah sekali itu, ya, sekali itu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar