Jumat, 01 September 2017

misteri yang tak terpecahkan



Misteri Sumur Gantung

            Sumur gantung, begitulah orang-orang tua di kampungku menyebutnya, tepatnya di daerah Madiun. Jujur aku tak pernah tau sejarahnya hingga sekarang. Dan akupun ingin mencoba mencari sejarahnya. Telah banyak peristiwa aneh yang akhir-akhir ini sering aku dengar dari para tetangga.
***
            Saat itu aku baru saja memasuki pesantren Nurul Huda ketika menginjak bangku Tsanawiyah. Yang mana pesantren itu tidak cukup jauh dari Sumur gantung tersebut. Memang benar kenyataan itu, namun tidak banyak santri yang telah lama tinggal di pesantren ini dan mengetahui sejarah sumur itu.
            Tiba-tiba Furqon memecah lamunanku.
            “Hei, minta tolong anterin aku dong ke bidan Lasmiarti!, aku ingin cek kesehatan. Akhir-akhir ini kondisi kesehatanku menurun.”
            “OK, kita naik sepeda Onthel ya.”
            Zaman di pondok tidak ada santri yang membawa motor. Hanya beberapa yang membawa sepeda onthel, itupun tidak genap dari angka empat. Jadi seberapa jauh jarak yang akan kami tempuh untuk pergi, hanya dengan menggayuh sepeda onthel.
            Sepeda onthel ini memang cukup tua umurnya, melebihi umurku. Layak saja jika tidak selancar perjalanan menggunakan sepeda onthel yang masih baru. Aku menggayuh tertatih-tatih membonceng Arif yang bertubuh lumayan besar dariku, namun dia lemah karena kurang sehat.
            “Masih kuat Furqon?” tanya Arif dengan suara melemah.
            “Masih Rif. Sebentar lagi sampai kok, tenang saja!”
            Tepat sampai di rumah bidan Lasmiyarti, aku turun dan mengantarkan Arif masuk kedalam. Sedangkan aku hanya bisa menunggu di luar. Pandanganku terpusat pada sebuah bangunan di depan rumah ini. ada sesuatu yang nampak baru, seperti tempat yang layak untuk dikunjungi. Ada beberapa pepohonan yang tertata layaknya sebuah taman. Penuh tanya dari dirku. Tempat apa ini, tapi sepi sekali, tidak ada seorangpun yang terlihat berada disana.
            “Ayo pulang Furqon!” lagi-lagi Arif memecahkan lamunanku.
            “Eh sudah selesai Rif? “Bagaimana kata bu Bidan?”
            “Alhamdulillah lambungku sudah pulih insyaalloh, hanya saja darah rendah ini yang masih melekat ditubuhku. Makanya aku sering melemah.” Tapi ndak papa kok. Semua akan baik-baik saja. Bu Bidan juga sudah menyarankan beberapa makanan yang harus aku konsumsi. Seperti air kacang hijau, daging dan lain sebagainya. Terimakasih ya Furqon sudah mau mengantarku kesini.”
            “Alhamdulillah, yasudah mari kita pulang!”
            Di perjalanan aku masih terpikir dengan suatu tempat yang aneh tersebut. Aku baru ingat bahwa Arif termasuk santri lama dari kecil yang berada di desa ini. sembari perjalanan menuju pesantren aku banyak tanya terhadap Arif mengenai tempat yang aku bilang aneh.
            “Arif, ngomong-ngomong kamu tahu tidak bangunan apa yang ada di depan rumah bu bidan tadi?”
            “Oh, itu. Iya aku tahu. Itu Sumur gantung fur. Jujur, seumur hidup aku tak pernah berani mendekati sumur itu. Bukan Cuma aku, anak-anak lain di kampung pun sama. Jangankan mendekati sumurnya. Mendekati tegalnya pun tak berani. Bukan karena takut hantu seperti yang sering digunakan orangtua kami untuk menakut-nakuti, melainkan karena mata mencorong bapak-bapak kami yang jauh lebih mengerikan. Ada banyak cerita tentang kejadian mistis di sekitar sumur gantung itu.”
            “kejadian mistis seperti apa Rif yang kau maksud!” tanyaku penasaran.
            “Konon, seorang bocah pernah mencoba mengetahui rahasia apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam sumur itu. Dengan tanpa memiliki rasa takut, ia naik dan nengok sumur itu, apa isinya? Bukan air yang dilihatnya. Namun cairan darah-darah yang baunya sangat tidak sedap. Bocah itu lari ketakutan, ia pulang dan lapor orangtuanya. Saking ketakutannya ia langsung muntah darah dan pingsan. Setelah beberapa jam nyawa bocah tersebut tidak terselamatkan.”
            “Konon pula, seorang ibu mencari kayu bakar di sekitar sumur gantung. untuk kebutuhan sehari-hari, belum pernah ia mencari kayu bakar disitu. Baru pertama kali saait itu ia terpaksa harus mencari disana. Setelah ia membawa pulang beberapa bongkah kayu dan menggunakan selayaknya, malam harinya ia di usik oleh makhluk-makhluk halus penunggu sumur gantung. Ia terus di hantui dan hantu-hantu itu membunuh ibu itu dengan sangat tragis.”
            Waw!. Mengerikan sekali Rif, tapi mengapa sekarang tempatnya terlihat bagus, seperti tempat wisata.”
            “Memang benar Fur, dibuat seperti itu agar tempat itu tidak terkesan menyeramkan.”
            “Tapi, apakah hingga sekarang sumur itu masih angker?”
            “Sepertinya iya.”
            “Aku masih penasaran Rif, nanti aku ingin mengamati kesana bersama ketiga sahabatku.”
            “Jangan Fur, bahaya!”
            “Tenang saja Rif, aku tidak sendiri. Insyaalloh Alloh menyelamatkanku.”
            “Kalau seperti itu mau kamu, silahkan. Semoga Alloh menjagamu.”
            “Terimaksih Rif.”
            Tak terasa kamipun tiba di pesantren setelah menggayuh sepeda onthel sambil berbincang-bincang bersama Arif. Segera mungkin aku menemui ketiga sahabatku yang juga penasaran dengan sumur gantung tersebut. Dan kami langsung pergi menuju sumur gantung dengan maniki sepeda onthel hingga tiba disana.
            “Aku terlalu takut untuk mendekat, telapak kakiku seolah terpacak ke dalam tanah.”
            “Ayo Fur jangan pura-pura takut,” Sahut Imron.
            “Ndak kok!”
            “Kamu yang ngajak kok malah kamu yang takut Fur,” tambah Alan.
            Aku berusaha mengumpulkan kekuatan agar bisa melangkahkan kakiku. Kuyakinkan diriku sendiri bahwa sumur itu sebenarnya aman. Tidak ada apa-apa di sana. Aku memejamkan mata sambil mulai melangkah dan terus merapal setiap do’a dan ayat Al-Qur’an yang ku ingat agar tetap merasa aman. Kesadaranku nyaris hilang ketika sesuatu mencengkeram lenganku begitu kuat dan menyeret tubuhku mejauhi sumur tua itu. Aku sangat terkejut. Ketika mataku terbuka, aku membalikkan badan. Bapak sudah berdiri satu langkah di depan, tak menoleh kepadaku sedetik pun, hanya dengus napas. Imran, Haris, dan Alan terdiam, aku tak berdaya. Geletar aneh, menjalar di pori-poriku, terasa dari cekalan di lenganku.
            Aku berusaha menenangkan hati sambil terus memandangi punggung Bapak yang berjalan cepat di depanku.
            Setelah menyeretku dari sumur gantung tadi, Bapak hanya terus berjalan cepat tanpa melirikku. Tak ada kata-kata. Tapi, sorot mata Bapak yang tajam dan mencorong sudah menjelaskan semuanya. Bukan karena aku telat sekolah, atapun suka main keluar dari pesantren, tidak. Bapak lebih paham tentang diriku. Tapi, bagaimana Bapak bisa tahu Aku dan teman-teman mengunjungi sumur gantung itu? Ah, sudahlah. Itu tidak penting lagi, hukuman lewat tatapan mata bapak jauh lebih penting sekarang. Tapi, aku harus ngomong apa?
            “Apa yang kamu temukan, Le?”
            Hanya itu, hanya sebaris pertanyaan itu, tapi cukup membuatku terpana, seperti pesilat yang kalah tarung sebelum bertanding. Bapak terus berjalan dengan cepat tanpa sedikitpun menoleh ke belakang untuk melihatku. Perkataan Bapak membekas dihatiku, aku tidak ingat kapan terakhir kalinya Bapak menasihatiku dengan didahului pertanyaan yang menikam jantung. Aku berpikir sejenak, menimbang apakah perlu menjawab atau tidak, lalu aku putuskan untuk tidak menjawab sekalimat pun. Dalam pengaruh emosi yang campur aduk, aku bergeming.
            “Apa kamu pikir sumur gantung itu tempat bermain-main?”
            Aku berdiri tegak, membeku, terperangah mendengar pertanyaan Bapak yang tidak pernah kusangka-sangka. Belum pernah Bapak semarah ini, marah sambil mengumbar pertanyaan yang sungguh sulit kujawab. Beginilah rasa takut itu, barangkali, menunggu setiap detik berlalu tanpa tahu apa yang semestinya kulakukan. Tak kusangka ternyata kepergianku ke sumur gantung bersama teman-teman akan menyulut amarah Bapak. Aku menduga ada rahasia besar yang disembunyikan oleh Bapak.
            “Sesekali dengarlah nasihat orangtua, Le!” tegas Bapak. “Kamu tidak boleh begini terus, Bapak capek!”
            Seketika itu juga, aku seperti cacing kepanasan, gemetaran di depan Bapak.
            Kamipun terus berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata.
            Aku tak akan pernah lagi mendekati sumur gantung itu. Bahkan, mendekati tegalannya. Kemarahan Bapak lewat tatapan matanya sangat membekas di kedalaman hati.
            Tak perlu ada penasaran hanya untuk menerima amarah tersembunyi Bapakku. Cukuplah sekali itu, ya, sekali itu saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl? Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasis...