Sebuah kenangan tentang Matematika
Ketika aku membaca sebuah buku yang
berjudul Tuhan pasti ahli Matematika, aku teringat akan kenangan tentang
Matematika. Kisah tentang seseorang yang mencintai ilmu matematika. Dahulu
untuk mempertimbangkan kemahiran seseorang itu dengan mengukur seberapa pandai
ia dalam bidang matematika. Bahkan seseorang yang bernama Zaza yang bisa
dibilang nihil dalam bidang bahasa, baik bahasa inggris ataupun bahasa arab.
Tetapi, Matematika lah pelajaran yang terlihat paling unggul yang ia pahami.
Guru les terbaik matematika baginya adalah ayah Zaza sendiri. Bahkan, setiap
hari ia selalu disuruh mengerjakan soal-soal matematika. Walaupun besok
dibangku sekolah tidak mempelajari ilmu matematika.
Saat ia duduk di bangku SD, guru yang
terkenal paling muda dan paling ganteng adalah guru matematika. Tidak heran,
jika seorang guru itu lebih menyayangi siswanya yang pandai dalam keilmuan yang
diajarkannya. Hingga seluruh teman-teman Zaza iri karena gurunya terlihat pilih
kasih saat itu. Menurutku, bukan karena kepandaian Zaza dalam matematika. Namun,
karena ia dahulu adalah siswa pendiam yang takut menghadapi banyak orang, tidak
banyak bicara, dan tidak banyak ulah. Dengan itu guru matematikanya memberi
perhatian lebih terhadap Zaza. Disamping itu karena rumah Zaza yang paling
jauh. Dan ia selalu menunggu jemputan orang tuanya sembari duduk di depan
sekolah seorang diri dan tanpa kata. Jadi, tidak heran jika banyak guru yang memberi
perhatian lebih terhadapnya. Bukan
karena kepandaian, tapi karena belas kasihan.
Saat SMP ia rasanya lupa mencintai
ilmu matematika. Ia tidak terlalu memperhatikan semua pelajaran sekolah. Bukan
karena tidak suka lagi, namun, di masa itu ia menomor tigakan ilmu sekolah.
Yang paling diutamakan baginya saat dipesantren adalah hafalan Al-Qur’annya. Ia
sangat antusias untuk menghatamkan Al-Qur’annya ketika lulus SMP nanti. Tapi
semua itu tidak terjadi. Karena guru Al-Qur’annya selalu memberhentikan
hafalannya tiap naik juz. Harapannya agar ia terus murojaah yang baru saja
dihafalnya. Karena tanggungan ia saat di pesantren bukan hanya hafalan
Al-Qur’an, namun wajib mempelajari ilmu alat dan kitab kuning. Selain itu ia
tergolong paling muda dengan memperoleh hafalan yang bisa dibilang cukup banyak
saat itu. Karena ia telah hafal 6 juz dimasa SD. Jadi, dengan itu gurunya tidak
ingin ia mendahului kakak-kakak yang lebih tua dalam menghatamkan hafalannya.
Sebagai ajaran untuk mrnghormati yang lebih tua. Karena dimasa itu belum ada
yang menghafalkan Al-Qur’an di waktu masih sekolah. Mereka kebanyakan menekuni
ilmu alat dimasa sekolahnya. Setelah lulus SMA mereka baru memfokuskan dirinya
untuk menghafalkan Al-Qur’an.
Tapi Zaza tidak pernah melupakan
ilmu Matematika. Walaupun ia menekuni agamanya. Dalam mempelajari ilmu Alat
atau yang biasa disebut ilmu Nahwu dan Shorof, ia merasakan betul bahwa
mempelajari ilmu ini bagaikan mempelajari ilmu matematika. Jadi ia sangat
bersemangat menekuni ilmu alat tersebut. Ia selalu antusias untuk menjadi yang
terbaik dalam pemahamannya. Bahkan, ketika ia berada dipuncak kebosanan akibat
banyak pikiran, teman-temannya selalu mengobarkan semangatnya dengan cara
mereka mendatangi Zaza dan meminta bantuan untuk memahami sub bab tertentu dari
ilmu alat yang tidak ia pahaminya. Ia tidak pernah lupa menyampaikan kepada
temannya bahwa ilmu nahwu atau shorof itu seperti ilmu matematika. Ia selalu
membandingkan dan memberi contoh terhadap teman-temannya.
Menjelang SMA ia berkeinginan untuk
fokus melancarkan hafalannya yang kini hampir khatam. Dan ia bercita-cita untuk
bisa mempelajari ilmu alat sampai tingkat Alfiyah. Akan tetapi, orang tuanya
tidak menyetujuinya. Orang tuanya menginginkan anaknya untuk meneruskan
sekolahnya di luar yang sudah diakui oleh pemerintah. Menurut Zaza, itu adalah
hal yang pahit. Karena menjadi tantangan baginya. Untuk duduk di bangku SMA
tidak se santai saat di MTS. SMA adalah jenjang atas yang tidak main-main.
Dalam angannya selalu terbayangkan. Ini adalah suatu yang berat bagi Zaza.
Untuk menguasai tiga bidang yang berbeda itu tidaklah sulit. Harus merelakan
salah satunya. Semua teman-teman dipesantrennya tidak ada yang menekuni tiga
bidang. Ada kalanya yang hanya fokus menghafalkan Al-Qur’an. Ada kalanya yang
hanya fokus menekuni seluruh kajian kitab-kitabnya. Bahkan ada yang hanya suka
dengan pelajaran sekolah saja. Bagi Zaza, tidak mungkin ia merelakan salah
satunya. ia sudah terlanjur cinta terhadal Al-Qur’an dan kajian kitab yang
keduanya saling bersangkutan. Tetapi, amanah orang tuanya tidak boleh
diabaikan. Akhirnya ia menerima keputusan untuk melanjutkan sekolah di SMA.
Saat-saat yang rumit baginya. Ia
harus menjalani sekolah dengan keadaan satu kelas dengan seorang yang biasa
disebut lelaki. Ini tantangan terbesar dalam kehidupannya. Ia sungguh takut
dengan yang namanya lelaki. Kecuali gurunya. Sejak SMP ia tidak pernah satu
kelas dengan lelaki. Hingga saat itu teman-temannya selalu menggodainya dengan
salah satu lelaki yang berada di pondok Nurul Huda. Dan jelas bahwa Zaza tidak
pernah tau siapa lelaki yang selalu digodain temannya untuk Zaza. Di pesantren
ia selalu dijuluki kekasih Al-Qur’an dan kitab. Sangat disayangkan kini ia
setiap hari akan selalu bertemu dengan lelaki.
Masa-masa pertama ia masuk dan duduk
di bangku SMA. Seluruh jiwanya terasa terbakar tiap ada lelaki yang masuk
kelas, sangat sakit, ia tak pernah berani untuk memandangnya. Karena masa SMA
berbeda dengan SMP, dan iapun harus mentaati peraturan dan tugas-tugas yang
diberikan oleh gurunya. Hal pertama yang dianggapnya konyol yaitu saat Zaza disuruh
memperkenalkan dirinya di depan kelas menggunakan bahasa inggris. Ia adalah
siswa pertama yang disuruh maju oleh gurunya. Bukan karena takut tidak bisa,
karena ia tak pernah terbayang ketika suaranya akan di dengar oleh para lelaki.
Ia memperkenalkan diri dengan menahan suaranya, jelas sang guru terus
menegurnya. Ia harus bersuara tegas dan lantang. Disinilah perjalanan Zaza
berubah. Ia mengubah prinsip hidupnya. Tidak selamanya ia hidup dilingkungan
para perempuan saja. Esok pun ia akan memiliki suami. Sejak itu ia lebih
memberanikan dirinya untuk PD. Bukan untuk mendekati para lelaki, tetapi lebih
PD untuk maju di depan umum yang ada para lelakinya.
Kembali bercerita tentang
Matematika. Di bangku SMA Matematika adalah ilmu wajib yang akan diujikan
Nasional saat kelulusan. Selama tiga tahun di MTS, seolah ia tak pernah ingat
bagaimana cara mempelajari Matematika. Saat SMA ia memulai lagi bertemu
matematika. Yang jelas matematika sekolah, bukan matematika pesantren yang
biasa disebut dengan ilmu alat. Tidak lupa semua. Keahlian yang dimilikinya
saat SD masih mengalir hingga ia berada di SMA. Yaitu ahli Matema
tika.
Ia selalu menjadi siswa kesayangan disekolahnya, karena Matematika. Akan tetapi,
ketika ada Olimpiade, ia tak pernah ikut, walaupun ia SMA, tapi ia masih
terikat peraturan pesantren, ia tidak boleh mengikuti kegiatan ekstra sekolah.
Termasuk mengikuti Olimpiade.
Akan tetapi, itu bukan suatu
kesedihan bagi Zaza, karena pencarian ilmu di sekolah ini menduduki urutan
ketiga, setelah mempelajari ilmu kitab kuning serta kaidahnya. Hingga menjelang
kelulusan, banyak guru yang merekomendasikannya untuk melanjutkan ke perguruan
tinggi di jurusan matematika. Namun, ia tidak mau. Ia telah mencantumkan dalam
jiwanya bahwa ia tidak mau lagi mempelajari ilmu dunia. Ia ingin terus menekuni
ilmu agama-agamanya. Tapi kenyataan itu berpindah karena orang tuanya memaksa
Zaza untuk kuliah. Zaza tidak bisa membantah lagi. Yang perlu disyukuri yaitu orang
tua Zaza tidak menuntut Zaza untuk memasuki jurusan tertentu. Dan pada akhirnya
dengan keisengan ia daftar pada jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Menurutnya
jurusan tersebut akan memperdalam kajian-kajian agama tentunya kitab-kitab
ataupun kaidahnya seperti ilmu nahwu dan
shorof yang ia sukainya.
Semua guru disekolah heran dengan
pilihannya. Iya, memang ia diterima di perguruan tinggi negri tanpa tes. Akan
tetapi, jurusan yang dipilihnya tidak meyakinkan. Apakah ia akan bisa bertahan
sampai menjadi sarjana sastra arab? Pertanyaan itu selalu muncul oleh seorang
guru yang ahli ilmu Balaghoh dan Mantiq. Walapun Zaza disekolah terkenal paling
bagus nilai pelajaran ilmu Balaghoh dan Mantiqnya, itu belum menjamin ia
menguasai di bangku kuliahnya. Karena pembahasannya lebih luas dan lebih rumit
lagi. Apakah Zaza akan sukses dengan tantangan yang diambilnya saat ini?
tantangan yang tidak pernah terbayang oleh dirinya, orang tuanya, bahkan semua
guru-gurunya. Bagi mereka jurusan sastra arab itu sulit dan tidak jelas
prospeknya.
Dan
iapun tidak akan menemui ilmu matematika lagi? Seperti itukah nanti?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar