Lailatu Tasyakur pertama di pesantren Internasional Wali
Semarang-kamis 21 Sepetember 2107. Sore itu terselenggaraya acara Lailatu Tasyakur dalam menyambut tahun
baru islam 1439H untuk pertama kalinya
di sebuah pesantren internasional Wali. Yang mana acara tersebut dihadiri oleh
perangkat desa, seluruh pengasuh, para asatidz, pengurus dan
santriwan-santriwati beserta para walinya.
Memang disetiap wilayah, bahkan disetiap pesantren pun berbeda cara
penyambutannya. Ada yang memiliki tradisi mujahadah, Tidak tidur semalaman,
dll. Namun, di Pesantren ini kami memulai dengan acara sederhana dan berkesan
untuk seluruh umat. Utamanya yang terlibat dalam acara tersebut.
Acara dimulai disore hari dengan pembacaan doa akhir tahun yang
dipimpin oleh ustadz Munib salah satu pengasuh pesantren tersebut. Dan
dilanjutkan sholat maghrib berjamaah, lalu seluruh santriwan-santriwati
menampilkan beberapa ketrampilan yang dimilikinya. Bahkan dari yang masih
berumur 4 tahun. Di pesantren Wali seluruh santri diwajibkan untuk berfikir
kreatif. Dari sini aksi bisa dimulai untuk menunjukkan bakat mereka dihadapan
para walinya.
Tidak hanya berupa penampilan-penampilan dari santri pelajar saja.
Bahkan, seorang santri tertua yang biasa yang dipanggil kakek, ia menampilkan
sebuah puisi untuk membakar semangat juang bagi para santri. Semua bertepuk
riuh. Bangga dan terharu melihat aksi penampilan-penampilan dari bakat para
santri pondok pesantren Internasional Wali.
Terhitung jumlah masyarakat dan santri yang berpartisipasi diacara
ini kurang lebih 50 orang. Usai pembacaan doa awal tahun. Seluruh peserta
disediakan prasmanan sederhana dengan menu sate kambing dan gule. Mereka
menyantap makanan dengan asyik mendengarkan sholawat Al-Banjari dari grup Anak
Suluk Jalanan.
Bisa dikatakan acara ini termasuk acara yang sudah biasa dan
sederhana. Namun, dengan kesederhanaan ini yang sangat dirasakan keberkahannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk merancang seluruh agenda dimalam hari
itu. Hanya tiga hari semua sudah terlaksana dengan baik dengan jumlah panitia 5
orang.
Selain itu, acara tersebut sangat mendidik anak-anak dan warga awam
agar lebih dekat dengan islam. Karena dengan agenda tersebut kita dapat
menghidupkan semangat hijrah untuk membangun kejayaan literasi islam dari
Indonesia. Ujar Ardabilly selaku ketua acara.
Pesan saya untuk semua masyarakat, ikutilah acara-acara yang
mengandung unsur kerohaniannya karena dalam acara seperti itu kita dapat
siraman hati untuk lebih taqwa kepada Alloh Swt. Tambah Ardabilly.
Dari : Sayyidatina Anzalia
OMN
سبحان الله
BalasHapusMasya Allah
BalasHapusAlhamdulillah
BalasHapus