Kami Menginginkan Mushaf, bukan Sepotong Kue
Namanya Fikri, ia menggendong dan merawat adiknya yang masih kecil
di sebuah bangunan yang tak layak disebut rumah. Ia hidup besama dengan
teman-temannya. Sungguh, mereka hidup bersama dengan mandiri, tak ada orang
dewasa yang menjaga dan menafkahinya, mereka hidup apa adanya. Bahkan, sering juga
mereka tak mendapat makanan. Terkadang mereka mendapatkan donasi dari
orang-orang yang membantunya.
Mereka adalah anak dari orang-orang yang taat dan rajin beribadah.
Mereka memiliki cita-cita yang besar serta mulia. Namun, cita-cita mereka tak
seperti cita-cita anak-anak pada umumnya. Mereka hanya ingin menjadi
hafidz-hafidzoh yang bisa membangun mahkota di surga untuk orang tuanya yang
telah meninggal.
******
Saat itu terjadi konflik kekerasan di daerah Ambon. Seorang anak
kecil berumur 7 tahun berlari-lari menghindari tembakan senjata hingga ia
melangkahi mayat-mayat yang tergeletak di jalanan. Pemerintahpun mendatangkan
darurat militer untuk kelompok radikal dan untuk keselamatan seluruh umat
terutama kaum muslimin yangada di Ambon.
Pada saat banyak jiwa-jiwa yang tidak terselamatkan, Ia selamat
dari tembakan senjata-senjata itu. Ia pun menemui ibunya yang sedang hamil 9
bulan dan nyaris akan melahirkan bayinya. Ia ingin ibu dan adiknya selamat,
tapi kehendak berkata lain. Ibunya meninggal saat melahirkan anaknya yang kedua,
nyaris ia hidup sebatangkara.
Ayahnya belum pernah menemuinya sejak terjadi pertempuan itu. Ia
beranggapan bahwa jika ayahnya tidak menemuinya, mungkin ia sudah meninggal. Ia
pun mencari sosok jiwa lain yang masih bernapas. Saat itu, banyak anak-anak
yang meratapi mayat-mayat yang tergeletak, yang mana mereka adalah orang tua
masing-masing anak tersebut. Konflik tersebut terjadi terutama pada kaum muslim
yang dewasa, sedang anak-anak tak ada yang dibunuh. Ia kemudian mengumpulkan
semua teman-temannya menuju sebuah desa yang di sana terdapat bangunan kecil
dan kumuh. Namun, bisa dikatakan telah aman.
Beberapa tahun kemudian, adik Fikri
yang bernama Aisyah telah berumur tiga tahun, sementara Fikri berumur sepuluh
tahun. Ia tiba-tiba merasa rindu kepada ayahnya. Ia tidak ingat secara pasti
bagaimana wajah ayah kandungnya. Ia juga tidak tahu apakah ayahnya sudah
meninggal ataukah masih hidup. Ia belum mendengar kabar tentangnya.
“Kak, ayah di mana? Aisyah ingin
bertemu ayah, Aisyah tidak pernah tau wajah ibu. Setidaknya, Aisyah masih bisa
bertemu ayah kan? Kak Fikri, engkau satu-satunya keluarga yang Aisyah punya,
apa kak Fikri bisa menemukan ayah kita?” tanya Aisyah dengan wajah polosnya.
“Aisyah, kak Fikri akan mencari
ayah. Kak Fikri yakin ayah kita masih hidup. kak Fikri janji akan menemukan
ayah kita, Aisyah yang sabar ya!” jawab fikri meyakinkan.
“Baik kak, terimakasih. Aku sayang
kakak”. Aisyah memeluk kakaknya.
Aisyah kembali bermain sambil
belajar menghafal ayat-ayat Al-Qur’an bersama teman-temannya. Hanya ada satu
mushaf yang mereka punya, itupun digunakannya secara bergantian. Namun, di antara
mereka banyak yang sudah hafal beberapa surat penting, seperti Al-Waqi’ah,
Yasiin, Al-Mulk, Ar-Rohman, Juz 30, dan beberapa surat lainnya. Ada dua orang
sudah hafal 30 juz termasuk Fikri.
Hanifah dan Rosi adalah penuntun
bacaan Al-Qur’an terhadap Aisyah untuk dihafalnya. Aisyah anak yang cerdas,
beberapa kali dilantunkan ayat oleh kedua temannya itu, ia langsung mengingat
dan menghafalnya seketika itu. Aisyah sangat bersyukur bisa hidup hingga kini
dan berkumpul dengan teman-temannya yang ahli qur’an. Walau terkadang sedih
karena ia merindukan sosok orang tuanya. Namun, kesedihannya itu hilang
seketika, saat ia sibuk menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an bersama
teman-temannya.
*****
Ayah Fikri masih hidup. Ia bertahan
hidup beberapa tahun yang lalu walau dengan beberapa luka akibat petempuran
saat itu. Sudah beberapa tahun lamanya ia tidak pernah bertemu dengan
anak-anaknya. Ia telah mencari di beberapa
pedesaan, tapi ia belum menemukannya. Beberapa stasiun telavisi menyiarkan berita
bahwa di pedesaan Hunuth terdapat rumah kecil yang ditinggali oleh beberapa
anak kecil penghafal Al-Quran. Tokoh
utama yang membangkitkan semangat juang para yatim piatu di desa tersebut bernama
Fikri. Ia ingat, bahwa anak pertamanya bernama Fikri. Ia berharap Fikri yang
ada di pedesaan Hunuth itu adalah anaknya.
Ayah Fikri menelusuri desa Hunuth
untuk mencari Fikri, anaknya. Dengan membawa sekantong roti yang akan ia hadiahkan
kepada anak-anak yatim-piatu yang ada disana, ia pun menemukan rumah kecil itu
dan segera memasukinya.
“Saya paman Syarif, saya punya
beberapa hadiah buat kalian yang mau membacakan beberapa surat Al-Qur’an buat
paman. Siapa yang mau baca duluan? Angkat tangannya!”
“Saya paman, saya paman!” mereka
saling berebutan untuk membaca beberapa ayat Al-Qur’an yang telah dihafalnya. Setelah
itu, paman Syarif membagikan kue-kue yang dibawanya kepada anak-anak yang telah
membaca beberapa surat hafalannya. Setelah membagi-bagikan kue, ia kemudian pamit
kepada semua anak-anak itu. Setibanya di depan pintu, ada tiga anak perempuan
mendekatinya, ia menangis di hadapannya.
“Mengapa kalian menangis nak? Apa
kalian belum mendapatkan kue dari paman?” tanya paman Syarif.
Mereka menunduk dan saling
bersikutan, tak ada yang berani angkat bicara, mereka adalah Aisyah, Hanifah
dan Rosi. Akhirnya, Hanifah angkat bicara dengan posisi menundukkan pandangan
di hadapan paman Syarif.
“Paman, Bolehkah kami meminta
sesuatu kepada paman?” tanya Hanifah.
“Oh boleh Nak, boleh, apa yang
kalian inginkan? Uang? Rumah yang besar? Atau kalian ingin paman antarkan ke
sebuah asrama modern?”
“Tidak paman! kami tidak membutuhkan
semua itu, kami menginginkan sebuah Mushaf, apa paman punya Mushaf dirumah?”
Berlinanglah air mata paman Syarif
mendengar permintaan mereka. Sungguh, mereka benar-benar anak-anak yang mulia,
yang tidak mengingkan harta, mereka hanya ingin mushaf untuk dihafalnya. Ia
merasa malu terhadap dirinya sendiri. “Oh iya Nak iya, besok paman akan kembali
dan membawakan kalian Mushaf.”
Mereka tersenyum kembali dan
berkata, “Terimakasih Paman.”
Paman itu pulang dan esoknya ia
kembali ke rumah kecil itu. Ia lupa tidak membawa Mushaf, ia melakukan hal yang
sama dengan hari kemarin membawa kue-kue dan dibagikan terhadap anak-anak yang
telah melanjutkan hafalannya bergantian. Ketiga anak itu menagih janji paman
untuk memberinya mushaf.
“Paman, mana Mushaf yang dijanjikan
paman untuk diberikan kepada kita?”
“Astaghfirulloh, maaf sekali nak
paman benar-benar lupa. Ok, paman akan segera pulang dan akan membawakan kalian
Mushaf sebanyak-banyaknya untuk kalian semua”.
Ia kembali ke rumah itu dengan
membawa mushaf satu karung. Ia datang dan semua anak-anak menyambutnya bahagia
dengan menerima mushaf itu satu persatu. Sungguh mereka lebih ceria ketika
menerima mushaf tersebut daripada sepotong kue ataupun harta lain. Saat itu
fikri datang dan bertanya, “Ini paman siapa? Aisyah menjawab: “Ini paman yang
baik hati kak, ia memberikan mushaf satu persatu kepada kita.”
“Oh, kamu juga tinggal disini Nak,
siapa namamu? Ini masih ada beberapa mushaf, kamu mau Nak?” tanya paman Syarif.
“Iya Pak, nama saya Fikri, saya
tinggal di sini bersama adik saya dan teman-teman saya sejak kejadian
pertempuran itu, kami anak yatim piatu yang ditinggal kedua orang tua kami.”
Paman itu langsung memeluk Fikri dan
berlinanglah air matanya, “Nak,,, ingat tidak? Saya ayah kandungmu. Sejak itu
ayah belum meninggal, ayah hanya terkena beberapa luka saja, ayah senang sekali
Nak bisa bertemu denganmu. Mana adikmu? Kamu sudah hafal berapa juz Nak?” sahut
paman Syarif sambil menangis memeluk Fikri karena bahagia.
Fikri memeluk erat ayahnya untuk melepas
rindunya seraya berkata,”Ayah, Fikri sudah dewasa. Adik Fikri bernama Aisyah.
Alhamdulillah Fikri sudah menghatamkan hafalan Fikri Yah...” Ia tak sanggup
menahan derai air matanya dengan rindu yang menyala-nyala.
“Ini Aisyah Yah,” Paman Syarif
langsung memeluk Aisyah dan fikri yang keduanya adalah anak kandungnya. Mereka saling
berpelukan erat dengan derai air mata bahagia bersyukur telah dipertemukan
dengan ayahnya.
repost
BalasHapus