Selasa, 29 Agustus 2017

kisah inspiratif



Kami Menginginkan Mushaf, bukan Sepotong Kue
Namanya Fikri, ia menggendong dan merawat adiknya yang masih kecil di sebuah bangunan yang tak layak disebut rumah. Ia hidup besama dengan teman-temannya. Sungguh, mereka hidup bersama dengan mandiri, tak ada orang dewasa yang menjaga dan menafkahinya, mereka hidup apa adanya. Bahkan, sering juga mereka tak mendapat makanan. Terkadang mereka mendapatkan donasi dari orang-orang yang membantunya.  
Mereka adalah anak dari orang-orang yang taat dan rajin beribadah. Mereka memiliki cita-cita yang besar serta mulia. Namun, cita-cita mereka tak seperti cita-cita anak-anak pada umumnya. Mereka hanya ingin menjadi hafidz-hafidzoh yang bisa membangun mahkota di surga untuk orang tuanya yang telah meninggal.
******
Saat itu terjadi konflik kekerasan di daerah Ambon. Seorang anak kecil berumur 7 tahun berlari-lari menghindari tembakan senjata hingga ia melangkahi mayat-mayat yang tergeletak di jalanan. Pemerintahpun mendatangkan darurat militer untuk kelompok radikal dan untuk keselamatan seluruh umat terutama kaum muslimin yangada di Ambon.
Pada saat banyak jiwa-jiwa yang tidak terselamatkan, Ia selamat dari tembakan senjata-senjata itu. Ia pun menemui ibunya yang sedang hamil 9 bulan dan nyaris akan melahirkan bayinya. Ia ingin ibu dan adiknya selamat, tapi kehendak berkata lain. Ibunya meninggal saat melahirkan anaknya yang kedua, nyaris ia hidup sebatangkara.
Ayahnya belum pernah menemuinya sejak terjadi pertempuan itu. Ia beranggapan bahwa jika ayahnya tidak menemuinya, mungkin ia sudah meninggal. Ia pun mencari sosok jiwa lain yang masih bernapas. Saat itu, banyak anak-anak yang meratapi mayat-mayat yang tergeletak, yang mana mereka adalah orang tua masing-masing anak tersebut. Konflik tersebut terjadi terutama pada kaum muslim yang dewasa, sedang anak-anak tak ada yang dibunuh. Ia kemudian mengumpulkan semua teman-temannya menuju sebuah desa yang di sana terdapat bangunan kecil dan kumuh. Namun, bisa dikatakan telah aman.
            Beberapa tahun kemudian, adik Fikri yang bernama Aisyah telah berumur tiga tahun, sementara Fikri berumur sepuluh tahun. Ia tiba-tiba merasa rindu kepada ayahnya. Ia tidak ingat secara pasti bagaimana wajah ayah kandungnya. Ia juga tidak tahu apakah ayahnya sudah meninggal ataukah masih hidup. Ia belum mendengar kabar tentangnya.
            “Kak, ayah di mana? Aisyah ingin bertemu ayah, Aisyah tidak pernah tau wajah ibu. Setidaknya, Aisyah masih bisa bertemu ayah kan? Kak Fikri, engkau satu-satunya keluarga yang Aisyah punya, apa kak Fikri bisa menemukan ayah kita?” tanya Aisyah dengan wajah polosnya.
            “Aisyah, kak Fikri akan mencari ayah. Kak Fikri yakin ayah kita masih hidup. kak Fikri janji akan menemukan ayah kita, Aisyah yang sabar ya!” jawab fikri meyakinkan.
            “Baik kak, terimakasih. Aku sayang kakak”. Aisyah memeluk kakaknya.
            Aisyah kembali bermain sambil belajar menghafal ayat-ayat Al-Qur’an bersama teman-temannya. Hanya ada satu mushaf yang mereka punya, itupun digunakannya secara bergantian. Namun, di antara mereka banyak yang sudah hafal beberapa surat penting, seperti Al-Waqi’ah, Yasiin, Al-Mulk, Ar-Rohman, Juz 30, dan beberapa surat lainnya. Ada dua orang sudah hafal 30 juz termasuk Fikri.
 Hanifah dan Rosi adalah penuntun bacaan Al-Qur’an terhadap Aisyah untuk dihafalnya. Aisyah anak yang cerdas, beberapa kali dilantunkan ayat oleh kedua temannya itu, ia langsung mengingat dan menghafalnya seketika itu. Aisyah sangat bersyukur bisa hidup hingga kini dan berkumpul dengan teman-temannya yang ahli qur’an. Walau terkadang sedih karena ia merindukan sosok orang tuanya. Namun, kesedihannya itu hilang seketika, saat ia sibuk menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an bersama teman-temannya.
*****
            Ayah Fikri masih hidup. Ia bertahan hidup beberapa tahun yang lalu walau dengan beberapa luka akibat petempuran saat itu. Sudah beberapa tahun lamanya ia tidak pernah bertemu dengan anak-anaknya. Ia  telah mencari di beberapa pedesaan, tapi ia belum menemukannya. Beberapa stasiun telavisi menyiarkan berita bahwa di pedesaan Hunuth terdapat rumah kecil yang ditinggali oleh beberapa anak kecil penghafal Al-Quran.  Tokoh utama yang membangkitkan semangat juang para yatim piatu di desa tersebut bernama Fikri. Ia ingat, bahwa anak pertamanya bernama Fikri. Ia berharap Fikri yang ada di pedesaan Hunuth itu adalah anaknya.
            Ayah Fikri menelusuri desa Hunuth untuk mencari Fikri, anaknya. Dengan membawa sekantong roti yang akan ia hadiahkan kepada anak-anak yatim-piatu yang ada disana, ia pun menemukan rumah kecil itu dan segera memasukinya.
            “Saya paman Syarif, saya punya beberapa hadiah buat kalian yang mau membacakan beberapa surat Al-Qur’an buat paman. Siapa yang mau baca duluan? Angkat tangannya!”
            “Saya paman, saya paman!” mereka saling berebutan untuk membaca beberapa ayat Al-Qur’an yang telah dihafalnya. Setelah itu, paman Syarif membagikan kue-kue yang dibawanya kepada anak-anak yang telah membaca beberapa surat hafalannya. Setelah membagi-bagikan kue, ia kemudian pamit kepada semua anak-anak itu. Setibanya di depan pintu, ada tiga anak perempuan mendekatinya, ia menangis di hadapannya.
            “Mengapa kalian menangis nak? Apa kalian belum mendapatkan kue dari paman?” tanya paman Syarif.
            Mereka menunduk dan saling bersikutan, tak ada yang berani angkat bicara, mereka adalah Aisyah, Hanifah dan Rosi. Akhirnya, Hanifah angkat bicara dengan posisi menundukkan pandangan di hadapan paman Syarif.
            “Paman, Bolehkah kami meminta sesuatu kepada paman?” tanya Hanifah.
            “Oh boleh Nak, boleh, apa yang kalian inginkan? Uang? Rumah yang besar? Atau kalian ingin paman antarkan ke sebuah asrama modern?”
            “Tidak paman! kami tidak membutuhkan semua itu, kami menginginkan sebuah Mushaf, apa paman punya Mushaf dirumah?”
            Berlinanglah air mata paman Syarif mendengar permintaan mereka. Sungguh, mereka benar-benar anak-anak yang mulia, yang tidak mengingkan harta, mereka hanya ingin mushaf untuk dihafalnya. Ia merasa malu terhadap dirinya sendiri. “Oh iya Nak iya, besok paman akan kembali dan membawakan kalian Mushaf.”
            Mereka tersenyum kembali dan berkata, “Terimakasih Paman.”
            Paman itu pulang dan esoknya ia kembali ke rumah kecil itu. Ia lupa tidak membawa Mushaf, ia melakukan hal yang sama dengan hari kemarin membawa kue-kue dan dibagikan terhadap anak-anak yang telah melanjutkan hafalannya bergantian. Ketiga anak itu menagih janji paman untuk memberinya mushaf.
            “Paman, mana Mushaf yang dijanjikan paman untuk diberikan kepada kita?”
            “Astaghfirulloh, maaf sekali nak paman benar-benar lupa. Ok, paman akan segera pulang dan akan membawakan kalian Mushaf sebanyak-banyaknya untuk kalian semua”.
            Ia kembali ke rumah itu dengan membawa mushaf satu karung. Ia datang dan semua anak-anak menyambutnya bahagia dengan menerima mushaf itu satu persatu. Sungguh mereka lebih ceria ketika menerima mushaf tersebut daripada sepotong kue ataupun harta lain. Saat itu fikri datang dan bertanya, “Ini paman siapa? Aisyah menjawab: “Ini paman yang baik hati kak, ia memberikan mushaf satu persatu kepada kita.”
            “Oh, kamu juga tinggal disini Nak, siapa namamu? Ini masih ada beberapa mushaf, kamu mau Nak?” tanya paman Syarif.
            “Iya Pak, nama saya Fikri, saya tinggal di sini bersama adik saya dan teman-teman saya sejak kejadian pertempuran itu, kami anak yatim piatu yang ditinggal kedua orang tua kami.”
            Paman itu langsung memeluk Fikri dan berlinanglah air matanya, “Nak,,, ingat tidak? Saya ayah kandungmu. Sejak itu ayah belum meninggal, ayah hanya terkena beberapa luka saja, ayah senang sekali Nak bisa bertemu denganmu. Mana adikmu? Kamu sudah hafal berapa juz Nak?” sahut paman Syarif sambil menangis memeluk Fikri karena bahagia.
            Fikri memeluk erat ayahnya untuk melepas rindunya seraya berkata,”Ayah, Fikri sudah dewasa. Adik Fikri bernama Aisyah. Alhamdulillah Fikri sudah menghatamkan hafalan Fikri Yah...” Ia tak sanggup menahan derai air matanya dengan rindu yang menyala-nyala.
            “Ini Aisyah Yah,” Paman Syarif langsung memeluk Aisyah dan fikri yang keduanya adalah anak kandungnya. Mereka saling berpelukan erat dengan derai air mata bahagia bersyukur telah dipertemukan dengan ayahnya.

         

1 komentar:

Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl? Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasis...