Minggu, 01 Oktober 2017



Lailatu Tasyakur pertama di pesantren Internasional Wali
Semarang-kamis 21 Sepetember 2107. Sore itu terselenggaraya acara           Lailatu Tasyakur dalam menyambut tahun baru islam 1439H  untuk pertama kalinya di sebuah pesantren internasional Wali. Yang mana acara tersebut dihadiri oleh perangkat desa, seluruh pengasuh, para asatidz, pengurus dan santriwan-santriwati beserta para walinya.
Memang disetiap wilayah, bahkan disetiap pesantren pun berbeda cara penyambutannya. Ada yang memiliki tradisi mujahadah, Tidak tidur semalaman, dll. Namun, di Pesantren ini kami memulai dengan acara sederhana dan berkesan untuk seluruh umat. Utamanya yang terlibat dalam acara tersebut.
Acara dimulai disore hari dengan pembacaan doa akhir tahun yang dipimpin oleh ustadz Munib salah satu pengasuh pesantren tersebut. Dan dilanjutkan sholat maghrib berjamaah, lalu seluruh santriwan-santriwati menampilkan beberapa ketrampilan yang dimilikinya. Bahkan dari yang masih berumur 4 tahun. Di pesantren Wali seluruh santri diwajibkan untuk berfikir kreatif. Dari sini aksi bisa dimulai untuk menunjukkan bakat mereka dihadapan para walinya.
Tidak hanya berupa penampilan-penampilan dari santri pelajar saja. Bahkan, seorang santri tertua yang biasa yang dipanggil kakek, ia menampilkan sebuah puisi untuk membakar semangat juang bagi para santri. Semua bertepuk riuh. Bangga dan terharu melihat aksi penampilan-penampilan dari bakat para santri pondok pesantren Internasional Wali.
Terhitung jumlah masyarakat dan santri yang berpartisipasi diacara ini kurang lebih 50 orang. Usai pembacaan doa awal tahun. Seluruh peserta disediakan prasmanan sederhana dengan menu sate kambing dan gule. Mereka menyantap makanan dengan asyik mendengarkan sholawat Al-Banjari dari grup Anak Suluk Jalanan.
Bisa dikatakan acara ini termasuk acara yang sudah biasa dan sederhana. Namun, dengan kesederhanaan ini yang sangat dirasakan keberkahannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk merancang seluruh agenda dimalam hari itu. Hanya tiga hari semua sudah terlaksana dengan baik dengan jumlah panitia 5 orang.
Selain itu, acara tersebut sangat mendidik anak-anak dan warga awam agar lebih dekat dengan islam. Karena dengan agenda tersebut kita dapat menghidupkan semangat hijrah untuk membangun kejayaan literasi islam dari Indonesia. Ujar Ardabilly selaku ketua acara.
Pesan saya untuk semua masyarakat, ikutilah acara-acara yang mengandung unsur kerohaniannya karena dalam acara seperti itu kita dapat siraman hati untuk lebih taqwa kepada Alloh Swt. Tambah Ardabilly.

Dari     : Sayyidatina Anzalia OMN

3 komentar:

Bermimpi S2 di Luar Negeri, Tapi Stres Mikir Skor Toefl? Skor Toefl yang tinggi tidak asing lagi sebagai salah satu syarat penerima beasis...